Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Harga Batu Bara Dipediksi Membaik di Kuartal IV

Kamis 02 May 2013 13:46 WIB

Rep: Friska Yolandha/ Red: Nidia Zuraya

Tambang batu bara Adaro

Tambang batu bara Adaro

Foto: Edwin/Republika

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- PT Adaro Energy Tbk memprediksi perbaikan harga batu bara di kuartal keempat 2013. Perseroan memperkirakan harga batu bara di akhir tahun akan meningkat di kisaran 95-100 dolar AS per ton.

Direktur Keuangan Adaro David Tendian mengungkapkan penurunan harga batu bara yang saat ini terjadi merupakan yang paling bertahan lama. "Tahun lalu harga batubara diprediksi melemah selama 18 bulan ke depan," ujar David di sela-sela acara Investor Day di Jakarta, Kamis (2/5).

Di sepanjang kuartal pertama harga jual rata-rata Adaro mengalami penurunan 18 persen. Hal ini disebabkan oleh lambatnya pertumbuhan harga dan melemahnya indeks harga batu bara global.

David menilai penurunan harga batu bara di sepanjang 2012 terjadi sebagai koreksi yang sehat. Pasalnya 10 tahun terakhir harga batu bara terus melejit. Namun ia optimistis di akhir tahun ini harga batu bara bisa berada di atas 95 dolar AS per ton.

Per kuartal pertama Adaro membukukan peningkatan produksi batu bara sebesar 4 persen menjadi 11,42 juta ton. Sementara volume penjualan relatif stabil 11,23 juta ton. Karena musim hujan yang terjadi di semester pertama, produksi kali ini 25 persen di bawah target. Namun adaro optimistis target akhir tahun tercapai. "Tahun ini kami menargetkan produksi 50-53 juta ton," ujar David.

Pada kuartal pertama produksi Adaro dari tambang Paringin sebesar 0,9 juta ton. Jumlah ini meningkat 291 persen bila dibandingkan dengan kuartal pertama tahun sebelumnya. Adaro berada di jalur yang tepat untuk mencapai target produksi enam juta ton di lokasi tersebut atau tumbuh enam kali lebih tinggi.

Perseroan optimis pertumbuhan kinerja batu bara hingga akhir tahun bisa membaik. Hal ini berbeda dengan nasib perusahaan tambang batu bara yang ada di Amerika Serikat dan Australia. Menurutnya, banyak perusahaan yang terpaksa mengurangi pekerja bahkan menutup tambang sehingga produksi berkurang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA