Selasa, 15 Syawwal 1440 / 18 Juni 2019

Selasa, 15 Syawwal 1440 / 18 Juni 2019

Ketidakpastian Brexit Bawa Dolar AS Menguat

Jumat 22 Mar 2019 09:13 WIB

Red: Nidia Zuraya

Karyawan menghitung mata uang dolar Amerika Serikat di gerai penukaran mata uang asing. ilustrasi

Karyawan menghitung mata uang dolar Amerika Serikat di gerai penukaran mata uang asing. ilustrasi

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Indeks yang mengukur dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia naik 0,53 persen

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Kurs dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (21/3) atau Jumat (22/3) pagi WIB. Penguatan dolar AS terjadi di tengah kemerosotan poundsterling karena kekhawatiran luas bahwa Brexit tanpa kesepakatan.

Baca Juga

Para pemimpin Uni Eropa (UE) berkumpul pada Kamis (21/3) di Brussel untuk membentuk tanggapan bersama terhadap permintaan Perdana Menteri Inggris Teresa May selama pertemuan puncak 24 jam Dewan Eropa.

Setelah persetujuannya tentang 'perceraian' dengan blok Eropa dua kali ditolak oleh parlemen Inggris, May pada Rabu (20/3) menuntut Presiden Dewan Eropa Donald Tusk menunda Brexit hingga 30 Juni. Permintaan penundaan ini merupakan upaya lebih lanjut May untuk membujuk para pembuat undang-undang di negaranya untuk mendukung kesepakatan Brexit-nya.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pada Kamis (21/3) bahwa Inggris akan menghadapi keberangkatan yang mengganggu dari Uni Eropa, jika May kehilangan suara parlemen ketiga pada kesepakatan Brexit minggu depan.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,53 persen menjadi 96,271. Indeks dolar AS turun 0,6 persen pada Rabu (20/3), ditutup di bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya dalam lebih dari 10 bulan, menyusul keputusan Federal Reserve AS menahan suku bunga acuannya tidak berubah.

Pada Rabu (20/3) Federal Reserve (Fed) mengambil sikap lebih dovish, menandakan ia tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini dalam menghadapi perlambatan ekonomi, sementara mengumumkan rencana untuk mengakhiri program pengurangan neracanya pada September.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,1353 dolar AS dari 1,1445 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris turun menjadi 1,3075 dolar AS dari 1,3245 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi 0,7107 dolar AS dari 0,7142 dolar AS.

Dolar AS dibeli 110,77 yen Jepang, lebih tinggi dari 110,62 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9937 franc Swiss dari 0,9900 franc Swiss, dan menguat menjadi 1,3376 dolar Kanada dari 1,3269 dolar Kanada.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA