Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Iran akan Veto Keputusan OPEC

Jumat 21 Sep 2018 12:01 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Nidia Zuraya

Logo OPEC

Logo OPEC

Amerika Serikat berupaya menekan negara anggota OPEC untuk memusuhi Iran

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran akan memveto setiap keputusan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang merugikannya. Iran juga memperingatkan bahwa beberapa produsen minyak mencoba menciptakan forum pemasok alternatif yang mendukung kebijakan Amerika Serikat (AS) dalam memusuhi Iran.

Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh mengatakan, perjanjian OPEC dan produsen minyak sekutu tahun 2016 untuk memangkas produksi telah usang. Sementara, komite OPEC yang dijadwalkan untuk bertemu akhir pekan ini di Aljazair tidak memiliki wewenang untuk memberlakukan pengaturan pasokan baru.

"Saya akan memblokir semua keputusan OPEC yang menimbulkan ancaman sekecil apapun terhadap Iran," katanya dilansir di laman Bloomberg.

Menurutnya, keputusan hanya dapat dibuat pada pertemuan OPEC di hadapan seluruh anggota OPEC dan berdasarkan konsensus anggota. Komentar Zanganeh ini mencerminkan kekhawatiran Iran di tengah meningkatkan isolasi dalam OPEC dan kampanye yang dipimpin AS untuk mengekang ekspor minyaknya.

Kemitraan yang berkembang antara saingannya, Arab Saudi dan Rusia menunjukkan tanda-tanda melemahkan keunggulan OPEC sebagai sumber global minyak mentah.

Iran melihat Arab Saudi, anggota terbesar kelompok itu bersekongkol dengan produsen lain untuk mencuri pangsa pasar Iran. Pada saat yang sama, sekutu Iran dalam OPEC yakni Venezuela tengah berjuang mencegah keruntuhan ekonomi negaranya.

Meski Iran memperingatkan adanya peningkatan risiko kekacauan publik pada pertemuan OPEC di Wina Desember nanti, hal tersebut tidak akan membuat banyak perbedaan para produksi OPEC. Masing-masing anggota OPEC dapat memilih untuk memompa aminyak sesuka hati, terlepas dari kebijakan organisasi.

Tekanan terhadap Iran telah meningkat sejak Presiden AS Donald Trump menarik diri dari perjanjian diplomatik yang dirundingkan Barack Obama untuk membatasi program nuklir Iran. Sanksi AS atad penjuala minyak Iran berlaku pada 4 November.

Trump berjanji untuk mengekang ekspor dari produsen terbesar ketiga OPEC ke nol. Pengiriman minyak mentah Iran telah jatuh sekitar 35 persen sejak April.

"Setiap ngara yang mengatakan dapat menebus kekurangan di pasar berpihak pada AS," kata Zanganeh.

Ia mengaku telah menulis surat kepada beberapa menteri minyak OPEC dan non OPEC yang menyatakan keprihatinannya. Ia juga telah mengeluh kepada Sekretaris Jenderal OPEC tentang pelanggaran terhadap kesepakatan pemotongan produksi awal.

Menurutnya, Trump membuat keputusan ini untuk membawa ekspor Iran ke nol tanpa konsultasi dengan pakar, bahkan di pemerintahannya sendiri. "Dia baru-baru ini menyadari bahwa ini tidak bisa dilakukan, jadi mereka mencari ekspor simbolis nol. Jika mereka bisa, hanya untuk satu bulan," ujar dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA