Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Saham Emiten Teknologi Bawa Wall Street Melemah

Selasa 18 Sep 2018 07:11 WIB

Red: Nidia Zuraya

Bursa saham di Wall Street

Bursa saham di Wall Street

Foto: AP
Sejumlah saham teknologi mengalami kerugian besar

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Saham-saham di Wall Street turun pada akhir perdagangan Senin (17/9) atau Selasa (18/9) pagi WIB. Sejumlah saham teknologi mengalami kerugian besar sehingga membebani pasar secara keseluruhan di tengah ketegangan perdagangan global.

Indeks Dow Jones Industrial Average menurun 92,55 poin atau 0,35 persen, menjadi ditutup di 26.062,12 poin. Indeks S&P 500 merosot 16,18 poin atau 0,56 persen, menjadi berakhir di 2.888,80 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup berkurang 114,25 poin atau 1,43 persen, menjadi 7,895.79.

Sektor teknologi berakhir 1,39 persen lebih rendah. Saham Apple termasuk di antara yang mengalam penurunan tajam. Saham pembuat iPhone itu jatuh 2,66 persen pada penutupan di tengah kekhawatiran bahwa pihaknya bisa terperangkat jika ketegangan perdagangan AS-Cina meningkat.

Cina adalah salah satu pasar terbesar Apple. Raksasa teknologi itu mengatakan awal bulan ini bahwa tarif-tarif AS pada barang-barang Cina bisa merugikan bisnisnya.

Saham raksasa e-commerce AS Amazon dan penyedia layanan streaming Netflix juga jatuh masing-masing turun 3,16 persen dan 3,9 persen pada penutupan pasar. Saham Boeing, perusahaan dengan eksposur pendapatan luar negeri yang tinggi, turun lebih dari satu persen, sementara Caterpillar, saham sensitif perdagangan lainnya, naik 0,91 persen.

Kekhawatiran akan eskalasi ketegangan perdagangan muncul kembali terutama setelah laporan selama akhir pekan bahwa Amerika Serikat akan mengejar lebih jauh tarif-tarif internasional, para ahli mencatat.

Penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, seperti dikutip Reuters, mengatakan pada Senin (17/9) bahwa dia memperkirakan Amerika Serikat akan segera mengumumkan tarif atas tambahan barang-barang Cina senilai 200 miliar dolar AS.

 

Sumber : Antara/Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA