Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Perang Dagang, AS Luncurkan Tarif Baru ke Cina

Rabu 11 Jul 2018 08:09 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Teguh Firmansyah

Perang dagang AS dengan Cina

Perang dagang AS dengan Cina

Foto: republika
AS tetap bersedia berunding dengan Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Amerika Serikat (AS) menyiapkan putaran tarif baru untuk barang-barang Cina senilai 200 miliar dolar AS. Langkah ini akan semakin meningkatkan perang dagang antara kedua negara.

Perwakilan Perdagangan Robert Lighthizer pada Selasa (10/7) merilis daftar barang tambahan yang bisa terkena 10 persen tarif. Barang-barang ini termasuk makanan laut, buah dan sayuran, benang, wol, jaket hujan dan sarung tangan baseball.

Langkah itu dilakukan setelah Amerika Serikat memberlakukan tarif 25 persen untuk barang-barang Cina senilai 34 miliar dolar AS Jumat lalu. Pemerintah Cina pun menanggapi dengan tarifnya sendiri atas barang-barang AS senilai 34 miliar dolar AS.

Keputusan pada Selasa mengikuti ancaman Presiden Donald Trump yang dibuat bulan lalu. Trump meminta Lighthizer mengidentifikasi produk-produk Cina senilai 200 miliar dolar AS untuk dikenakan tarif, jika Cina membalas hukuman AS.

Menurut Trump, hukuman pemberian tarif diberikan karena pencurian kekayaan intelektual yang dilakukan Negeri Bambu itu. Namun Cina justru membalas pemberian tarif yang menargetkan mobil-mobil AS dan barang-barang pertanian utama, seperti kedelai dan daging.

Baca juga, Cina Kenakan Tarif Khusus 100 Jenis Barang Impor AS.

Tarif yang diumumkan pada Selasa tersebut akan menjadi gelombang ketiga yang berlaku setelah 30 Agustus. "Daripada mengatasi kekhawatiran kami, Cina telah mulai membalas terhadap produk AS. Tidak ada pembenaran untuk tindakan semacam itu," kata Lighthizer dalam sebuah pernyataan.

Meski demikian, Amerika Serikat tetap bersedia untuk terlibat dalam perundingan dengan Cina mengenai masalah yang terjadi.

Sebaliknya, pejabat administrasi senior Trump mengatakan, sejauh ini kedua belah pihak belum melakukan pembicaraan. Cina terus bersikeras bahwa masalah yang didentifikasi AS bukanlah masalah nyata.

Pejabat itu menambahkan, Cina belum siap berbicara tentang Made in China 2025 yang merupakan rencana negara itu untuk mendominasi industri masa depan seperti robotika, mobil listrik dan chip komputer.

Kebijakan ini menjadi perhatian utama bagi para pejabat AS. Sementara itu, analis mengatakan Cina tidak mungkin mundur dari rencana yang dianggap penting bagi perkembangan ekonomi.

Pengumuman Lighthizer awal pekan ini disambut dengan serangan balik. Ketua Komite Keuangan Senat Orrin Hatch menyebutnya 'sembrono'. Ia menambahkan, tarif tersebut bukan pendekatan yang ditargetkan.

"Kami tidak dapat menutup mata terhadap praktik perdagangan merkantilis Cina, tetapi tindakan ini gagal dari strategi yang akan memberikan pemerintah negosiasi dengan Cina sambil mempertahankan kesehatan dan  kemakmuran jangka panjang ekonomi Amerika"

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES