Selasa, 10 Zulhijjah 1439 / 21 Agustus 2018

Selasa, 10 Zulhijjah 1439 / 21 Agustus 2018

Revolusi Ini Bisa Memicu Kenaikan Harga Minyak Dunia

Kamis 17 Mei 2018 14:10 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Nidia Zuraya

Harga minyak dunia (ilustrasi).

Harga minyak dunia (ilustrasi).

Foto: REUTERS/Max Rossi
Morgan Stanley menyebut harga minyak mentah bisa mencapai 90 dolar AS per barel

REPUBLIKA.CO.ID, Bukan hanya Iran dan OPEC, ada masalah lain yang akan mempertahankan harga minyak dua tahun ke depan, menurut Morgan Stanley. Analis bank dalam sebuah laporan mengatakan, minyak mentah Brent akan mencapai 90 dolar AS per barel pada 2020 karena peraturan pelayanan internasional baru mulai berlaku, merombak jenis bahan bakar yang diproduksi oleh kilang.

Perubahan ini memaksa kapal mengkonsumsi bahan bakar sulfur yang lebih rendah per Januari tahun itu. Hal ini tentunya akan menyebabkan ledakan permintaan produk sulingan menengah termasuk diesel dan marine gasoil yang memicu kebutuhan lebih banyak minyak mentah.

"Kami memperkirakan kebutuhan untuk distilat menengah akan mendorong penyebaran yang lebih tinggi dan menyeret harga minyak," tulis analis Morgan Stanley termasuk Martijn Rats seperti diberitakan laman Bloomberg.

Sebelumnya, minyak mentah telah menerima dorongan karena pemangkasan pasokan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan peristiwa geopolitik termasuk keputusan Amerika Serikat (AS) untuk menerapkan kembali sanksi terhadap Iran. Patokan gobal Brent yang mendekati 80 dolar AS per barel awal pekan ini diperdagangkan pada level tertinggi sejak akhir 2014. Untuk kontrak berjangka Januari 2020 berada di sekitar 66,60 dolar AS per barel.

Aturan dari Organisasi Maritim Internasional yang menyerukan kapal untuk mengurangi kandungan sulfur pada bahan bakar menjadi 0,5 persen dari 3,5 persen. Aturan ini merupakan upaya untuk mengekang polusi udara yang menyebabkan penyakit pernapasan dan hujan asam.

Diharapkan, perbahan ini dapat memicu permintaan produk yang memenuhi IMO, memberikan tekanan pada industri penyulingan untuk menghasilkan lebih banyak bahan bakar. Menurut Morgan Stanley, Repsol SA, Reliance Industries Ltd., Valero Energy Corp dan Tupras Turkiye Petrol Rafinerileri AS termasuk di antara mereka yang paling diuntungkan.

"Sistem pemurnian dari perusahaan-perusahaan ini sangat diarahkan untuk distilat menengan dan output bahan bakar sulfur tinggi yang merupakan kombinasi yang paling menguntungkan setelah 2019," kata laporan terkait.

Pasar penyulingan menengah sudah menunjukkan tanda-tanda keketatan. Stok solar dan gasoil di pusat penyimpanan utama di Eropa, AS dan Asia berada di bawah rata-rata musiman lima tahun mereka.

Pada saat yang sama, permintaan sulingan menengah telah tumbuh pada tingkat tahunan sekitar 600 ribu barel per hari sejak 2011, percepatan menjadi 800 ribu barel per hari dalam kuartal terakhir.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Jamaah Haji Berwukuf di Arafah

Senin , 20 Agustus 2018, 23:56 WIB