Saturday, 9 Syawwal 1439 / 23 June 2018

Saturday, 9 Syawwal 1439 / 23 June 2018

Orang Terkaya Dunia: Kesenjangan tidak Seharusnya Diabaikan

Selasa 13 March 2018 10:46 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Budi Raharjo

Kemiskinan di negara LDC

Kemiskinan di negara LDC

Foto: isiria.wordpress.com
Akan ada reaksi negatif atas penguasaan harta oleh 1 persen populasi orang di dunia

REPUBLIKA.CO.ID,NEW YORK -- Dalam laporan tahunan ini, Forbes bersama konsultan properti Knight Frank mendapati ada lebih dari 11 ribu orang ultra kaya di seluruh dunia. Orang-orang ultra kaya ini adalah mereka yang memiliki harta lebih dari 50 juta dolar AS. Jumlah mereka naik menjadi 129.730 orang pada 2017 dari 118.100 di tahun sebelumnya.

Forbes mencatat, di akhir 2017, ada 2.208 miliarder di dunia dengan kekayaan agregat mencapai 9,1 triliun dolar AS (sekitar Rp 125 ribu triliun) atau naik 18 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari ribuan miliarder itu, 20 orang terkaya di antaranya saja menguasai kekayaan senilai 1,2 triliun dolar AS (Rp 16.500 triliun) atau 13 persen dari agregat nilai kekayaan para miliarder.

Meski Knight Frank telah mengubah matriks analisis mereka, tetap saja jumlah orang kaya yang bertambah kaya makin meningkat jumlahnya. Laporan ini memprediksi, jumlah orang dengan kekayaan lebih dari 50 juta akan naik 40 persen menjadi 181 ribu orang pada 2022.

Direktur Eksekutif Wealth-X yang menyediakan data untuk analisis Knight Frank, Vincent White, mengatakan, orang-orang kaya dunia terkena imbas positif periode emas kondisi ekonomi yang tak terlalu panas, tapi juga tak terlalu dingin. "Kondisi itu membuat mereka lebih mudah berbisnis karena lingkungannya mendukung untuk mengumpulkan modal, dan di atas itu adalah dorongan untuk memulai bisnis yang menjadi kunci penciptaan kekayaan," kata White, demikian dilansir Forbes beberapa waktu lalu.

Hanya saja, White juga memperingatkan kemungkinan reaksi negatif dari publik secara umum atas penguasaan harta oleh hanya 1 persen populasi orang di dunia. Perubahan sosial dalam jangka panjang soal ketimpangan pemilikan harta jadi tekanan yang tidak seharusnya diabaikan. "Mungkin, akan ada saat dimana pertumbuhan populasi ultra kaya tidak lagi sesuai proyeksi yang ada," ungkap White.

Mengutip laporan Hurun Report Inc, The New York Times beberapa waktu lalu melansir, 153 anggota Parlemen Cina dan para penasihatnya masuk kelompok orang super kaya dengan nilai kekayaan agregat 650 miliar dolar AS (Rp 8.938 triliun). Cina sendiri menambah 210 miliarder baru pada 2017 atau 40 persen lebih banyak dibanding miliarder baru di AS.

Dengan menulis surat jawaban tahunan atas 10 pertanyaan tersulit, Bill dan Melinda Gates sadar akan meningkatnya ketidakpercayaan terhadap institusi global, alaram ketimpangan yang mulai berbunyi, dan makin tidak mudahnya menjadi miliarder di tengah masyarakat. Karena itu, sejak 2009, mereka mulai menulis surat tahunan yang berisi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan publik yang pasangan ini anggap berat dan mereka berusaha menjawabnya seterbuka mungkin, demikian dilansir Washington Post, beberapa waktu lalu.

Menurut editor Inside Philanthropy dan penulis buku The Givers: Wealth, Power and Philanthropy in a New Gilded Age, David Callahan, mereka yang mengelola Gates Foundation harus berpikir keras dan memastikan lembaga tersebut tidak masuk dalam kelompok lembaga yang tidak dipercaya di AS. "Mereka harus berpikir tentang itu. Melihat surat tahunan yang mereka tulis, jelas mereka berhasil melakukannya," kata Callahan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES