Senin, 11 Syawwal 1439 / 25 Juni 2018

Senin, 11 Syawwal 1439 / 25 Juni 2018

Harga Minyak Terus Menguat

Sabtu 13 Januari 2018 10:49 WIB

Red: Budi Raharjo

Ladang minyak (ilustrasi)

Ladang minyak (ilustrasi)

Foto: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Harga minyak terus mempertahankan kenaikannya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena menteri perminyakan Rusia mengatakan bahwa pasokan minyak mentah global belum seimbang. Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan menteri-menteri dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) terkemuka dan produsen non-OPEC akan membahas kemungkinan untuk keluar dari kesepakatan dalam sebuah pertemuan komite yang akan datang.

"Ini membuat surplus pasar menurun dan pasar belum benar-benar seimbang," seperti ditulis CNBC.

Para analis mengatakan pernyataannya meredakan kekhawatiran pasar tentang pengurangan secara bertahap kesepakatan yang pimpinan OPEC untuk mengurangi produksi. Di bidang data, jumlah rig yang beroperasi di ladang-ladang minyak AS meningkat sebesar 10 rig menjadi 752 rig pekan ini. "Kenaikan terbesar sejak Juni," kata agen layanan ladang minyak Baker Hughes dalam laporan mingguannya pada Jumat (12/1).

Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, naik 0,50 dolar AS menjadi menetap di 64,30 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Maret, bertambah 0,61 dolar AS menjadi ditutup pada 69,87 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Sehari sebelumnya, harga minyak juga memperpanjang kenaikannya, karena para pedagang terus ditopang oleh penurunan mengejutkan dalam produksi AS dan penarikan yang lebih besar dari perkiraan di stok minyak mentah AS. Produksi minyak AS turun secara tak terduga hampir 300.000 barel per hari menjadi 9,49 juta barel per hari pekan lalu, menurut laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu (10/1).

"Sementara itu, persediaan minyak mentah AS turun sebesar 4,9 juta barel menjadi 419,5 juta barel pekan lalu, menyentuh level terendah sejak Agustus 2015," kata EIA.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES