Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Bencana Alam Berhubungan dengan Pola Konsumsi Manusia

Selasa 07 Jan 2020 15:12 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Gita Amanda

Sejumlah rumah warga rusak berat diterjang banjir bandang yang melewati Sungai Ciberang di Kampung Lebak Gedong, Cipanas, Lebak, Banten, Kamis (2/1/2020).

Sejumlah rumah warga rusak berat diterjang banjir bandang yang melewati Sungai Ciberang di Kampung Lebak Gedong, Cipanas, Lebak, Banten, Kamis (2/1/2020).

Foto: Antara/Weli Ayu Rejeki
Kasus banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak diduga ada faktor manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Manajer Lingkungan dan Keuangan Mikro Syariah Dompet Dhuafa, Syamsul Adriansyah, menyampaikan kasus banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak dan Bogor diduga ada faktor manusia di dalamnya. Oleh karena itu pola konsumsi eksesif manusia perlu dievaluasi agar tidak terlalu merusak alam.

Syamsul menyampaikan, diduga ada lahan kritis di atas gunung yang menyebabkan banjir bandang di Kabupaten Lebak. Longsor di Kabupaten Bogor juga diduga terjadi karena faktor lahan kritis di lereng-lereng dekat desa yang terdampak longsor. Begitu pula banjir di Jakarta terjadi karena faktor manusia.

Sebab tidak ada yang disebut bencana alam, yang ada adalah ancaman alam. Setiap bencana ada pengaruh manusia di dalamnya. "Aspek ini yang menurut saya yang perlu diperhatikan bersama-sama dan melakukan introspeksi, apakah (perilaku) konsumsi kita berkontribusi pada peningkatan ancaman bahaya di sekitar kita," kata Syamsul kepada Republika, Selasa (7/1). 

Ia mencontohkan, penggunaan air tanah di Jakarta perlu dievaluasi, apakah menjadi penyebab banjir yang semakin sulit diatasi. Sebagaimana diketahui 40 persen tanah di Jakarta sudah berada di bawah permukaan air laut. Salah satu penyebabnya karena penggunaan air tanah di Jakarta yang berlebihan.

Begitu pula dengan penebangan pohon di gunung, apakah menjadi penyebab terjadinya longsor dan banjir bandang. "Sepertinya perlu ada introspeksi secara bersama-sama dan secara nasional, apakah kita mengkonsumsi sumber daya alam sudah memperhatikan aspek-aspek keberlanjutan atau tidak," ujarnya.

Menurut Syamsul, semuanya harus mulai mengevaluasi jasa lingkungan yang selama ini dikonsumsi. Selama ini alam telah memberikan jasa lingkungan kepada manusia. Maka manusia perlu membatasi konsumsi terhadap sumber daya alam pada level yang memungkinkan.

Sebab alam harus bisa memulihkan dirinya sendiri secara alamiah. Maka konsumsi eksesif manusia perlu dikurangi. "Kita harus memikirkan pola mengatasi air tanah yang semakin lama semakin berkurang dan tercemar," ujarnya.

Tapi, Syamsul mengingatkan, ada potensi air hujan. Mungkin bisa memanfaatkan air hujan untuk menjadi sumber konsumsi manusia. Sehingga manusia tidak berlebihan menggunakan air tanah yang semakin berkurang dan tercemar. "Jadi kita perlu mengubah konsumsi eksesif kita secara bersama-sama," jelasnya.

Sebelumnya, Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup (LPLH) dan Sumber Daya Alam (SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai kejadian bencana alam dari tahun ke tahun naik seiring perubahan iklim. Maka umat manusia harus bersama-sama memperbaiki cara hidup agar lebih ramah terhadap alam. Perubahan iklim terjadi karena perbuatan manusia, tapi manusia bisa mengatasi perubahan iklim degan menjaga hutan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA