Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Perjalanan Rumah Sakit Terapung Bantu Sulawesi Tengah

Jumat 12 Okt 2018 07:49 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Gita Amanda

Rumah Sakit Terapung YBM PLN.

Rumah Sakit Terapung YBM PLN.

Foto: YBM PLN
Selama beberapa hari terakhir, setidaknya RSTKA sudah melayani 194 pasien.

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) bekerja sama dengan Yayasan Baitul Maal (YBM) Perusahaan Listrik Negara (PLN), ikut memberikan pelayanan kesehatan kepada warga masyarakat Sulawesi Tengah (Sulteng) yang terkena dampak bencana gempa bumi dan tsunami. Kedatangan RSTKA ini bisa dikatakan mendadak karena terjadinya bencana di Sulteng yang juga mendadak.

Direktur RSTKA, Agus Harianto, mengisahkan perjalannya bersama RSTKA. "Kapal ini sempat diberi kesempatan untuk membantu saudara-saudara kita di Lombok. Pada waktu itu kita datang melawan perintah dari Syahbandar," kata dia sembari mengingat-ingat.

Saat itu, RSTKA tidak diizinkan untuk berlayar. Namun, melihat kebutuhan akan pelayanan kamar operasi yang sangat tinggi, sementara banyak RS di Lombok yang kolaps, ia memutuskan bagaimana pun caranya, RSTKA harus bersandar di Lombok. "Dengan semangat itu, kita bisa masuk," terangnya.

Dari penanganan di Lombok, RSTKA memutuskan untuk kembali ke Surabaya untuk sesaat. Sebelum melanjutkan pelayaran ke Indonesia Timur pada 19 September 2018 hingga 28 September 2018. Di hari terakhir pelayaran tersebut, terjadilah bencana di Sulteng.

"Waktu itu kita sedang persiapan menuju ke pulau-pulau perbatasan. Ada 10 daerah pulau yang akan kita layani. Waktu begitu mendapat berita di sini masif kejadiannya, kita langsung berubah haluan menuju ke sini (Sulteng)," ungkap Agus.

Dengan jarak tempuh yang jauh, juga karena RSTKA bukan merupakan kapal besi, mereka tidak bisa dengan cepat sampai di Sulteng. RSTKA baru bersandar di Pelabuhan Donggala pada Jumat (5/10). Sesampainya di lokasi bersandarnya, RSTKA yang berisikan 25 tenaga medis langsung beroperasi.

Meski terkesan terlambat datang jika dibandingkan dengan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Dr Soeharso, ia tak mempermasalahkan hal itu. Bagi Agus dan kawan-kawan, yang terpenting adalah pasien yang membutuhkan pertolongan medis dapat terlayani oleh siapa pun juga, baik itu oleh awak KRI Dr Soeharso, RSTKA, atau siapa pun juga.

"Dengan semangat kebersamaan itu, kita mencoba melakukan, melanjutkan, pelayanan yang sudah, mungkin, banyak teman-teman dokter spesialis yang mundur, kita masuk," ujar dia.

Setelah beroperasi di Sulteng, Agus berencana melanjutkan pelayanan yang tertunda di Maluku dan Wakatobi. Tapi, sambung dia, RSTKA tidak akan meninggalkan begitu saja wilayah Donggala dan Sulteng. Pihaknya telah bersepakat dengan pihak-pihak lain untuk membantu pemulihan sepenuhnya hingga benar-benar pulih.

"Mungkin kalau pelru ada tindak lanjut yang lebih panjang. Tapi yang penting kita ada komitmen, kita akan bantu sampai betul-betul pulih," jelas Agus.

Wakil Ketua Bidang Perencanaan dan Penghimpunan YBM PLN, Iriyanto Resi KH, menjelaskan, RSTKA merupakan bagian dari fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan YBM PLN di Sulteng. Selama beberapa hari terakhir, setidaknya RSTKA sudah melayani 194 pasien.

"Ada layanan dokter umum, ada juga layanan operasi di sana," jelas Resi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA