Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

ACT Serahkan Rumah Sakit Darurat ke RSUP NTB

Ahad 07 Oct 2018 18:35 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Gita Amanda

Tim Medis Relawan ACT memberikan pelayanan kesehatan.

Tim Medis Relawan ACT memberikan pelayanan kesehatan.

Foto: dok. ACT
Dengan rumah sakit ini korban yang masih trauma bisa dirawat dengan tenang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aksi Cepat Tanggap (ACT) menuntaskan sejumlah pembangunan bangunan yang rusak akibat gempa melanda Lombok beberapa waktu lalu. Salah satu bangunan yang dibangun adalah rumah sakit darurat yang dibangun di kompleks Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi (RSUP) Nusa Tenggara Barat (NTB).

Berlokasi di RSUP NTB di Kota Mataram, satu unit bangunan rumah sakit darurat disumbangkan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil melalui ACT. Jumat (5/10) lalu, Tim ACT untuk Pemulihan Pascagempa menyatakan bangunan rumah sakit darurat sudah selesai dan bisa digunakan.

Acara serah terima dilakukan ACT bersama RSUP NTB, Jumat (5/10) lalu, oleh Kepala Cabang ACT NTB, Lalu Muhammad Alfian. Ia mengatakan selama ini warga korban gempa yang kesulitan mendapat tempat perawatan akhirnya dapat difasilitasi dengan sebuah rumah sakit yang lebih baik dari tenda-tenda.

"Alhamdulillah sekali. Rumah sakit darurat ini pun selesai. Jadi warga yang selama ini masih trauma dirawat di ruangan, bahkan di lantai atas, bisa lebih tenang. Karena ruangan ini tahan gempa," ujar Lalu Muhammad Alfian dalam keterangan tertulis yang didapat Republika.co.id, Sabtu (6/10).

Nantinya, ruangan ini akan dilengkapi dengan beberapa perlengkapan medis. Sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang saat ini masih dirawat di tenda-tenda darurat.

Sementara itu Direktur RSUP NTB, dr H Lalu Hamzi Fikri, menyampaikan ucapan terima kasih kepada ACT, yang selama ini banyak membantu masyarakat NTB. Baik dalam pemberian logistik, ataupun penanganan kesehatan dalam tanggap darurat. Tim medis dari awal gempa sangat terbatas, merasa lebih terbantu dengan adanya kolaborasi pemerintah dan ACT.

"Ada pasien yang lebih memilih pulang, padahal belum sembuh benar. Karena takut gempa dan dirawat di lantai tiga. Namun dengan adanya bangunan baru ini, tentu kekhawatiran pasien bisa diminimalisir," ungkapnya.

Hamzi berharap musibah Gempa ini tak terjadi lagi. Karena musibah ini masih menyisakan banyak PR bagi pemerintah, tak hanya untuk membangun infrastruktur saja, namun juga psikologis masyarakat yang trauma pasca gempa.

Beliau berharap ACT bersama pemerintah, bisa hadir tidak hanya membantu dalam hal penyediaan infrastruktur, namun juga berkolaborasi dalam hal penanganan psikologis masyarakat."Tentu kesehatan yang paling utama. Terlebih musim pancaroba ini. Berbagai macam penyakit menghantui masyarakat. Ini menjadi PR kita bersama. Tak hanya pemerintah dan ACT, juga seluruh elemen masyarakat. Agar sadar tentang bagaimana hidup sehat," ucap dr H Lalu Hamzi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA