Monday, 9 Zulhijjah 1439 / 20 August 2018

Monday, 9 Zulhijjah 1439 / 20 August 2018

BMH Bangun Empat Mushala Darurat untuk Korban Gempa NTB

Rabu 08 August 2018 20:43 WIB

Red: Irwan Kelana

Proses pendirian mushala darurat oleh BMH dan SAR Hidayatullah di Dusun Rangsot Barat, NTB.

Proses pendirian mushala darurat oleh BMH dan SAR Hidayatullah di Dusun Rangsot Barat, NTB.

Foto: Dok BMH
Seluruh masjid di wilayah gempa rusak parah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Gempa dengan kekuatan 7 SR yang menimpa Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahad (5/8)  telah menyebabkan masjid dan ribuan rumah  hancur. Akibatnya, masyarakat korban gempa terkendala untuk menunaikan shalat berjamaah.

 

Padahal, ibadah adalah bagian penting yang menjadi kebutuhan esensial mereka sebagai hamba. Untuk itulah, Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) akan segera memulai pembangunan mushalla darurat.

Menurut tokoh masyarakat Dusun Rangsot Barat, Desa Sigarpenjalin , Kecamatan Tanjung,  Kabupaten Lombok Utara, Zainuddin, seluruh masjid di dusunnya rusak parah sehingga tidak bisa ditempati untuk shalat berjamaah.  “Seluruh masjid rusak parah sehingga warga tidak bisa shalat jamaah,” ujarnya dalam rilis BMH yang diterima Republika.co.id, Rabu (8/8).

Dengan kondisi tersebut, BMH berupaya untuk memproses pendirian mushala darurat agar masyarakat dapat memenuhi hak dan kebutuhannya dalam beribadah.  "Insya Allah, BMH merencanakan pembangunan empat  mushala darurat yang terletak di Dusun Cupek, Dusun Rangsot, dan Rangsot Barat, Desa Sigarpenjalin, Lombok Utara," terang Kepala BMH Perwakilan NTB, Abdul Kholiq.

“Kita sementara memproses pendirian mushala darurat, karena lusa hari Jumat. Sehingga,  warga dapat melakukan shalat Jumat di mushala darurat ini,” imbuh Kholiq.

Ia menambahkan, mushala telah dibangun dengan komposisi tiang bambu dengan atap dan alas terpal. "Hal tersebut dilakukan untuk menghindari dampak buruk, jika terjadi gempa susulan," jelasnya.

Desa Sigarpenjalin menjadi fokus penanganan korban secara terintegrasi yang dilakukan oleh BMH, IMS dan SAR Hidayatullah guna penanganan secara lebih komprehensif. "SAR Hidayatullah menangani evakuasi, IMS  bertanggung jawab dalam urusan  medis, sementara BMH mengurus logistik dan yang lain," kata Kholiq.

Hingga saat ini telah ada 15 posko yang menjadi jangkauan tanggungjawab BMH untuk mendistribusiakn logistik, medis dan penyediaan tenda darurat warga. “Selain itu, BMH membuka posko utama di Jalan Langko No 69 Mataram sebagai posko penyaluran bantuan dan rumah singgah relawan yang akan bertugas di Lombok Utara,” papar Kholiq.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES