Monday, 4 Syawwal 1439 / 18 June 2018

Monday, 4 Syawwal 1439 / 18 June 2018

NU CARE-Lazisnu Gelar Kirab Koin Raksasa NU

Rabu 14 March 2018 17:16 WIB

Red: Agung Sasongko

acara Grand Launching Lembaga-lembaga Pemberdayaan Umat di Pesantren An-Nawawi Tanara, Kabupaten Serang Banten,

acara Grand Launching Lembaga-lembaga Pemberdayaan Umat di Pesantren An-Nawawi Tanara, Kabupaten Serang Banten,

Foto: istimewa
Ada 6 (enam) provinsi yang menjadi tempat kirab Koin Raksasa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dalam upaya sosialisasi dan memantapkan Gerakan Koin NU Peduli, NU Care-LAZISNU menggelar kirab Koin (kotak infak) Raksasa, yang diagendakan akan berangkat dari Banten sampai timur pulau Jawa, yakni Kabupaten Banyuwangi.

Pelepasan kotak infak raksasa dilaksanakan pada Rabu (14/03), usai acara Grand Launching Lembaga-lembaga Pemberdayaan Umat di Pesantren An-Nawawi Tanara, Kabupaten Serang Banten, yang akan dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Ketua Umum MUI sekaligus Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, dan pejabat pemerintah setempat.

Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU, Syamsul Huda menjelaskan, ada 6 (enam) provinsi yang menjadi tempat kirab Koin Raksasa yaitu Provinsi Banten, DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur.

“Di masing-masing provinsi, Koin Raksasa akan berhenti di 10 Kabupaten/Kota. Estimasi waktunya di satu provinsi dua minggu. Jika ada enam provinsi maka akan memakan waktu selama kurang lebih tiga bulan,” papar Syamsul.

Syamsul mengatakan bahwa perjalanan kotak infak memang tidak singkat, sebagaimana Gerakan Koin NU Peduli pun prosesnya tidak singkat untuk mencapai kesuksesan dan dikenal masyarakat khususnya warga Nahdliyin.

“Koin, yang bermakna ganda yaitu uang receh dan juga singkatan dari kotak infak, memang tidak singkat prosesnya. Pola penghimpunan dana dari warga untuk warga ini kami lihat berangkat dari Sukabumi dengan tradisi jimpitan, yang dipraktikkan oleh Almarhum Ajengan Abdul Basith. Kemudian disempurnakan oleh PCNU Sragen yang diinisiasi oleh Kiai Ma’ruf Islamuddin lewat Gerakan Koin NU, yang pada April 2017 diresmikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Sukabumi lewat tradisi jimpitan telah berhasil mendirikan klinik ZIS, usaha peternakan kambing. Begitu pun dengan Sragen, dengan modal uang receh dari masyarakat membangun Rumah Sakit NU Sido Waras, jasa travel, dan program pemberdayaan ekonomi lainnya,” jelas Syamsul.

Dari Sukabumi dan Sragen, lanjut Syamsul, saat ini warga NU di berbagai daerah berlomba-lomba menggerakkan roda ekonomi Nahdliyin. Gerakan Koin NU, yang dimotori oleh NU Care-LAZISNU, dengan massif digalakkan oleh warga NU di Jombang, Banyumas, Kulonprogo, Tangerang Selatan, Surabaya, Kota Bandung, Semarang, Lampung, Nganjuk, dan banyak lagi daerah lainnya dengan eksplorasi program, sesuai kondisi dan potensi daerah masing-masing.

“Daerah lain termotivasi oleh Gerakan Koin NU Sragen. Hal ini seperti apa yang diramalkan oleh Gus Dur, kebangkitan NU nanti akan dimulai dari Sragen,” tutur Syamsul, menirukan Gus Dur.

Melalui Kirab Koin Raksasa, NU Care-LAZISNU hendak memantapkan dan menyosialisasikan Gerakan Koin NU Peduli secara lebih luas di berbagai daerah. Pola penghimpunan Koin NU menjadi pola utama NU Care-LAZISNU. Sementara pola pengelolaannya seperti BMT, yang juga sukses di berbagai daerah seperti BMT NU Jawa Timur dengan mengelola dana 1,2 triliun, disusul BMT di Semarang 300 miliar, dan terakhir di Kecamatan Pasir Sakti Lampung Timur dengan pengelolaan 60 miliar.

Dari pola penghimpunan Gerakan Koin NU, pengelolaan model BMT, kemudian pola pendistribusian yang dilakukan 50% untuk pemberdayaan dan 30% untuk charity, dan 20% untuk pengelolaan. Pemberdayaan yang diimplementasikan oleh NU Care-LAZISNU satu di antaranya adalah pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (UKM) batik yang dirintis oleh para difabel di Blora, yaitu UKM Difabel Blora Mustika, yang saat ini tercatat ada 786 orang difabel di Kabupaten Blora yang tergabung dalam UKM ini. Beranjak dari pengelolaan yang serba sederhana, kini batik DBM sudah memproduksi sekitar 20 motif batik tulis dan 25 motif batik cap.

UKM Difabel Blora Mustika yang dikomandoi oleh Pak Ghofur turut hadir dalam Grand Launching Lembaga-lembaga Pemberdayaan Umat. Serta hadir pula pengelola BMT NU Jawa Timur, Semarang, dan Pasir Sakti Lampung Timur.

Pemberdayaan ekonomi yang digerakkan oleh NU Care-LAZISNU sesuai dengan amanat Muktamar NU ke-33 di Jombang, dan merupakan implementasi dari tema Rakornas NU Care-LAZISNU 2018: Arus Baru Kemandirian Ekonomi NU, Menyongsong 100 Tahun Nahdlatul Ulama.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES