Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Laznas LMI Bangun Optimisme di Tahun 2018

Kamis 11 January 2018 08:35 WIB

Red: Agung Sasongko

Direktur Laznas LMI, Agung Heru Setiawan

Direktur Laznas LMI, Agung Heru Setiawan

Foto: Istimewa

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Agung Heru Setiawan, Direktur Laznas LMI

Tahun baru selalu identik dengan optimis dan semangat baru. Demikian pula bagi Laznas LMI. Sebagai salah satu lembaga amil zakat nasional, pada 2018 ini harus memunculkan optimisme tinggi untuk menghadapi tantangan ke depan.

Sebelum itu, Laznas LMI terlebih dahulu melakukan muhasabah atau evaluasi secara keseluruhan dalam pengelolaan dana ummat. Seperti yang disampaikan Umar bin Khattab. Salah seorang khalifah yang dijamin masuk surga itu pernah mengingatkan umat Islam dengan perkataannya yang sangat populer. Yakni, “hasibu anfusakum qobla an tuhasabu.” Artinya, hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.

Nah, LMI sendiri telah beroperasi di seluruh wilayah NKRI. Terutama di lima provinsi. Yaitu, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Selatan. Tidak hanya itu, LMI juga berkontribusi pada dunia Internasional. Pada tahun lalu, Laznas LMI mendapatkan pengakuan dari pemerintah untuk bergabung dalam Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM). LMI juga mendapatkan Baznas Award untuk kategori Laznas dengan Pendayagunaan dan Pendistribusian Dana Terbaik di Indonesia.

Tercatat, ada 88 ribu orang penerima manfaat bantuan di seluruh Indonesia dan dunia. Jumlah donaturnya mencapai 26 ribu orang. Terkait pendanaan, sejak berpindah secara operasional dari skala provinsi ke nasional pada 2016, terjadi peningkatan biaya operasional. Karena itu, dilakukan pengaturan sehingga biaya operasional per Oktober 2017 bisa ditekan. LMI menggunakan beberapa rasio untuk mengukur kinerja keuangan dan kelembagaan.

Sementara itu, terkait program, Laznas LMI berhasil melaksanakan berbagai program revolusioner. Seperti dengan memperkenalkan program Desa Inspiratif. Ada empat desa di Indonesia yang menjadi percontohan program tersebut. Yakni, Desa Klepu di Kabupaten Ponorogo, Desa Depok di Kabupaten Trenggalek,  Desa Sungai Putat di Kota Palembang, dan Desa Cempaka di Kota Banjarbaru. 

Masing-masing desa tersebut telah memiliki relawan lokal, dan struktur mikro organisasi yang menjadi penggerak masyarakat desa. Ada 2.161 orang mustahik yang saat ini tergabung dalam Program Ekonomi dan Desa Inspiratif. Keseluruhannya sudah mendapat stimulus ekonomi dan pendampingan rutin dari petugas LMI. 

Selain itu, Laznas LMI juga melanjutkan program yang lebih dulu ada. Misalnya Program Pendidikan berupa bantuan beasiswa yang telah dijalankan sejak 1998. Penerima beasiswa LMI adalah siswa dari keluarga tidak mampu yang sebagian juga anak yatim. Kemudian, pada 2015 LMI juga telah mengoperasikan SMP Ibnu Batutah. Sekolah tersebut diperuntukkan bagi siswa penghafal Al Qur’an. 

Dengan demikian, eksekusi Program Pendidikan di LMI adalah penyaluran dari dana infaq terikat Yatim, Zakat, Infaq Umum, dan Wakaf. Sasaran peserta program tersebut juga berkembang selain kepada siswa tapi juga untuk para guru dan da’i.

Di bidang kemanusiaan, Laznas LMI juga menunjukkan keterlibatan yang besar. Pada Maret 2017, terbentuk RNPB (Relawan Nusantara Penanggulangan Bencana) di Tulungagung. Bersamaan dengan itu berlangsung pelatihan tanggap bencana bagi relawan LMI dari seluruh Jawa Timur. LMI pun terlibat aktif bersama BPBD setempat dalam penanganan longsor Desa Banaran, Ponorogo, banjir di Pacitan, dan kasus bencana lain. Dalam tataran misi kemanusiaan internasional, LMI bergabung dengan AKIM (Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar) dan mengirimkan relawan langsung ke Myanmar dan Bangladesh 

Pada 2017, LMI mulai memperkenalkan istilah “penerima manfaat” dan “mustahik”. Penerima manfaat adalah mustahik ataupun non-mustahik yang mendapatkan manfaat dari program LMI secara langsung dan tidak langsung. Penerima manfaat boleh jadi adalah kerumunan orang yang mendapatkan manfaat dari acara ceramah dakwah dari da’i LMI, atau penerima daging qurban, bisa juga penerima makanan buka puasa di desa tertinggal, atau perkampungan miskin. 

Sedangkan mustahik adalah orang-orang yang secara pribadi dan keluarganya berhak mendapatkan bagian dari dana zakat. Data penerima manfaat itu tercatat dalam arsip LMI dan dipantau perkembangannya. Dalam tataran praktisnya mustahik bisa jadi mendapatkan penyaluran bukan dari dana zakat, atau bahkan tidak mendapatkan bantuan langsung, namun menjadi sasaran pendampingan rutin dari relawan LMI.

Kontribusi program lain yang selama ini juga menjadi unggulan adalah pemberdayaan mualaf Klepu, Ponorogo. Program itu masuk di Outlook Zakat Indonesia. Para penerima manfaatnya sebagian besar mualaf dan daerahnya termasuk rawan aqidah.

Dengan kuasa Allah dan ikhtiar kita bersama, Laznas LMI akan terus meningkatkan kompetensi dan kapasitas agar benar-benar amil menjadi profesi penuh prestis di dunia dan di akhirat. Apalagi LMI telah turut ambil bagian dalam program sekolah dan sertifikasi yang digagas oleh Forum Zakat (FOZ).

Laznas LMI menyampaikan terima kasih kepada para donatur, mitra, relawan, dan semua pihak atas partisipasi dan donasinya yang dipercayakan kepada kami untuk dikelola. Semoga Allah SWT memberikan balasan atas amal ibadah Anda semua.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES