Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Jabal Nur dan Gua Hira, Saksi Kenabian Muhammad SAW

Senin 08 Oct 2012 15:18 WIB

Rep: Hannan Putra/ Red: Dewi Mardiani

Gua Hira di Jabal Nur selalu dikerubungi jamaah yang hendak ziarah.

Gua Hira di Jabal Nur selalu dikerubungi jamaah yang hendak ziarah.

Foto: NET

REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT berfirman, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang Mahamulia. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui.” (QS Al-Alaq 1-5).

Jabal Nur adalah sebuah gunung dimana Malaikat Jibril pada 17 Rajab turun membawa wahyu yang pertama tersebut kepada Nabi Muhammad SAW yang berada di dalamnya. Gunung ini terletak di sebelah tenggara, 4 km dari kota Makkah, yaitu dekat dengan jalan Mina menuju Arafah. Karena adanya perluasan wilayah, sekarang gunung ini berada di dalam Makkah.

Dalam kitab Taurat, jabal ini disebut dengan jabal Faron, atau juga dikenal orang-orang dengan sebutan Jabal Nur. Jabal ini terpisah dari gunung-gunung yang ada di Makkah. Di gunung ini terdapat gua Hira yang menambah kehebatan dan keagungan gunung tersebut.

Di jabal ini teradapat gua yang dinamai Gua Hira. Gua ini tidak dimasuki sinar matahari dari sejak terbit hingga tenggelamnya. Sehingga orang yang berada di dalamnya tidak akan merasakan sengatan matahari. Di gua inilah, Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertamanya dari Allah SWT.

Ahli sejarah mengatakan, Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul telah melakukan uzlah di dalamnya selama 3-5 tahun, beliau beribadah, dan bertahajud. Bahkan di bulan Ramadhan satu bulan penuh beribadah, beliau bertafakkur dan mengasah jiwanya di sana.

Istrinya Khadijah selalu datang dengan membawa makanan dan minuman ke sana. Dia lewat jalan yang terjal menuju gua dengan sangat berat dan susah yang memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Itu semua dilakukan demi mendapat ridha Allah dan Nabinya.

Diriwayatkan dari Khodijah RA, “Sesunggunya Nabi telah menyendiri di Gua hira. Beliau melihat mimpi yang benar sampai kemudian Jibril turun membawa wahyu, lalu Nabi pulang ke rumahnya dengan gemetar. Lalu beliau menceritakan kepada istrinya kejadian yang telah menimpanya, dann Khodijah memberitahukan hal itu kepada Waroqoh bin Naufal. Waroqoh memberi kabar gembira tentang kenabiannya seraya berkata, “Sesungguhnya dia adalah Nabi umat ini.”

Sumber : Sejarah Kota Makkah dan berbagai sumber
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA