Sunday, 29 Safar 1444 / 25 September 2022

Antara Tanzih dan Tasybih (1)

Selasa 27 Mar 2012 14:25 WIB

Red: Chairul Akhmad

Ilustrasi

Ilustrasi

Foto: Blogspot.com

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar    

Salah satu pengetahuan yang amat penting diketahui di dalam wacana ilmu tasawuf ialah al-tanzih wa al-tasybih.

Konsep ini sangat mendasar karena memengaruhi suasana batin dan etos kerja seorang Muslim. Konsep ini juga menjadi salah satu pangkal perbedaan mendasar antara para mutakalimin/teolog dan para sufi.

Secara kebahasaan, tanzih berarti jauh dan tasybih berarti menyerupai. Tanzih berasal dari kata nazzaha berarti menjauh, berjarak, dan membersihkan. Tanzih adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan bahwa Tuhan dan makhluk-Nya amat jauh dan tak terbandingkan (uncomparable).

Tuhan tak dapat digambarkan dan dibandingkan dengan makhluk-Nya. Ia berbeda secara mutlak dengan makhluk-Nya dan tidak ada kata sifat yang mampu melukiskan-Nya. Sedangkan tasybih berasal dari kata syabbaha yang berarti menyerupakan, yakni menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Tasybih adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bahwa Tuhan mempunyai kemiripan dengan alam sebagai makhluk-Nya karena alam adalah lokus penampakan (madzhar) diri-Nya. Dengan kata lain, alam (secara harfiah berarti tanda) adalah ayat untuk mengungkap identitas Tuhan.

Para teolog lebih sering menekankan aspek tanzih Tuhan. Bahkan, di antaranya mengatakan barangsiapa yang menyerupakan Tuhan dengan sesuatu maka ia musyrik. Bagi teolog, Tuhan harus berbeda dengan makhluk-Nya karena Ia adalah Tuhan. Makhluk tidak boleh dan memang tidak akan pernah mungkin menyerupai Tuhannya.

Mereka mendasarkan pandangannya pada ayat dan hadits di samping logika. Mereka sering mengutip, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia." (QS As-Syura: 11). "Tuhan menjadi tumpuan kosmos dan seluruh makhluk, Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS Ali ‘Imran: 97).

Sejak semula juga tidak pernah dibayangkan teolog bahwa Tuhan serupa dengan makhluk-Nya. Bagimana Tuhan bisa disebut Tuhan kalau tidak lebih Maha Istimewa dibandingkan makhluk-Nya. Pokoknya, Tuhan harus berbeda dengan makhluk-Nya dan tidak mempunyai hubungan apa pun dengan sifat makhluk-Nya yang bersifat baru.

Seandainya semua manusia kufur atau semuanya berperilaku iblis, tidak akan menurunkan kewibawaan dan kemahasempurnaan Tuhan. Sebaliknya, seandainya manusia semuanya berperilaku ideal seperti malaikat, tidak juga akan menambah kewibawaan dan kesempurnaan Tuhan.

Tuhan adalah Maha Sempurna tanpa ketergantungan sedikit pun pada makhluk-Nya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA