Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

Mengapa Persahabatan Spiritual Penting? (1)

Selasa 28 Feb 2012 15:22 WIB

Red: Chairul Akhmad

Persahabatan (ilustrasi).

Persahabatan (ilustrasi).

Foto: Blogspot.com

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Jangan bertanya tentang seseorang,
tetapi bertanyalah tentang sahabatnya.
Sebab, setiap orang akan mengikuti sahabatnya.
(Abdul Qadir Isa)

Persahabatan spiritual mempunyai arti penting bagi orang-orang yang menempuh perjalanan spiritual (salikin). Persahabatan spiritual bukan pertemanan biasa dalam arti teman diskusi dan berbagi pengalaman, tetapi pertemanan sejati yang bisa mengasah ketajaman batin kita di dalam memahami makrifat dan menyingkap tabir rahasia (mukasyafah).

Keutamaan persahabatan spiritual diisyaratkan dalam beberapa ayat antara lain: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS At-Taubah: 119). "Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (QS Luqman: 15).

Juga dalam hadits, "Orang-orang yang paling utama di antara kalian ialah orang-orang yang apabila mereka dipandang maka mereka mengingatkan kepada Allah.” (HR. Al-Hakim dari Anas).

"Hai Ibnu Umar, agamamu, agamamu, agamamu, sesungguhnya dia adalah daging dan darahmu, perhatikanlah dari siapa engkau mengambilnya. Ambillah agama dari orang yang istikamah, dan janganlah mengambilnya dari orang yang menyimpang."
(Al-Hadits).

Fungsi sahabat spiritual

Sahabat spiritual dapat menunjukkan penyakit-penyakit yang menghalangi kita untuk sampai kepada Allah SWT sekaligus menunjukkan obatnya. Ia mampu menanam dan menumbuhsuburkan rasa cinta kepada Tuhan. Sahabat spiritual sejati tidak cukup hanya mengajak kita memasuki sebuah pintu, tetapi juga menghilangkan tabir antara dia dan diri kita.

Sehingga kita tidak pernah menyembunyikan masalah apa pun yang terlintas di dalam pikiran kita terhadapnya. Ia tidak hanya menuntun dengan ucapan, tetapi juga mengalirkan energi spiritual dan pikiran positif. Ia selalu mendampingi kita, baik dalam keadaan sedang terjatuh di dalam kubangan dosa maupun di puncak maqam spiritual.

Ia pun selalu memicu kita untuk membersihkan diri dan meningkatkan riyadhah dan mujahadah. Ia seperti memiliki kemampuan untuk mengeluarkan kita dari penjara hawa nafsu  dan mengantarkan kita ke hadapan Tuhan. Ia terus menuntun dan mendampingi sehingga kita berada di hadapan-Nya lalu seolah-olah membisiki kita,  "Inilah engkau dan Tuhanmu.”

Sahabat spiritual seperti ini langka, tetapi ada dan lebih banyak dari persangkaan kita. Hanya saja kita tidak punya kesungguhan untuk mencarinya. Seandainya di kemudian hari kita mencari dan menemukannya, maka bersyukurlah dengan cara belajar dan menghargai keberadaannya, sebab jika Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia akan memperkenalkan hamba itu dengan sahabat spiritual.

Sebaliknya, bukanlah disebut sebagai sahabat spiritual jika dia yang justru mengalihkan perhatian kita dari Tuhan ke dunia dan materi. Malah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dengan tegas menyatakan, "Apabila engkau menemukan sahabat spiritualmu dalam keadaan lalai, tinggalkanlah!”


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA