Sunday, 13 Muharram 1440 / 23 September 2018

Sunday, 13 Muharram 1440 / 23 September 2018

Mualaf Center Baznas (MCB) Bina Mualaf Muslim Baduy

Kamis 13 September 2018 21:48 WIB

Red: Irwan Kelana

Mualaf Center Baznas (MCB) melakukan pembinaan terhadap para komunitas mualaf Muslim Baduy di Lebak, Banten.

Mualaf Center Baznas (MCB) melakukan pembinaan terhadap para komunitas mualaf Muslim Baduy di Lebak, Banten.

Foto: Dok MCB
Sekitar 700 KK dari suku Baduy telah memeluk agama Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat suku Baduy dikenal sangat teguh memegang adat istiadat mereka secara turun-temurun dan berlaku mutlak, yang disebut dengan pikukuh (kepatuhan). Suku Baduy menetap di perkampungan yang terletak di Gunung Baduy, Lebak, Banten,  yang merupakan wilayah adat suku Baduy, untuk menghindari sentuhan dunia luar kepada mereka.

Menurut Direktur Mualaf Center Baznas, Salahuddin El Ayyubi, eksklusivisme masyarakat suku Baduy bukan berarti mereka menutup diri dari pergaulan dunia luar, namun sebatas pada upaya menjaga adat warisan dari nenek moyang mereka.

 

“Kepercayaan yang mereka pegang disebut dengan Slam Wiwitan. Mereka meyakini bahwa mereka mendapatkan amanah menjaga kelestarian bumi ini dari segala kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia,” kata Salahuddin dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Kamis (13/9).

photo

MCB membina komunitas mualaf Muslim Baduy.

Namun demikian, kata Salahuddin,  interaksi suku Baduy dengan masyarakat luar sekitar mereka yang mayoritas beragama Islam telah membuat beberapa perubahan. “Di antara mereka mulai terbuka dan ingin mengenal Islam. Lambat laun akhirnya mereka pun bersyahadat dan menjadi seorang mualaf,” ujarnya.

Salahuddin mengungkapkan, dakwah Islam untuk kalangan mualaf Muslim Baduy mulai berkembang pada sekitar tahun 1990. “Hingga saat ini, terdapat sekitar 700 KK dari suku Baduy telah memeluk agama Islam,” tuturnya.

Hukum adat menyatakan bahwa bagi masyarakat suku Baduy yang memeluk Islam, ia harus keluar dan meninggalkan budaya, kepercayaan, dan aturan adat hingga kampung halamannya untuk menjalankan ajaran Islam seutuhnya.

 

“Dengan demikian, ketika ada dari suku Baduy yang menjadi seorang Muslim, ia tidak memiliki bekal materi yang memadai termasuk tempat tinggal.  Hal ini yang mendorong Mualaf Center Baznas (MCB)melakukan program pembinaan dan pemberdayaan dengan fokus pada peningkatan pemahaman agama sekaligus upaya membangun kesejahteraan mualaf melalui kemandirian ekonomi,” paparnya.

Salahuddin mengemukakan, pembinaan keislaman untuk komunitas mualaf Muslim Baduy sebelumnya telah berjalan, yang digerakkan oleh dai atau ustaz asli suku Baduy setempat yang telah menjadi Muslim. Program peningkatan pemahaman agama dilaksanakan setiap pekan sekali dengan membuat kelompok pengajian dengan kurikulum yang telah disiapkan oleh MCB.

“Kurikulum tersebut meliputi akidah, ibadah, akhlak, sirah Nabawiyah, serta wawasan kebangsaan. Mualaf yang ada juga diajari membaca huruf hijaiyah agar dapat membaca Alquran dengan baik,” ujarnya.

Selain program di atas, kata Salahuddin,  MCB juga mendistribusikan mualaf kit berupa Al Quran, buku iqra’, sajadah, baju koko, sarung, dan peci untuk Muslim, serta mukena dan gamis untuk Muslimah. Di samping itu, mualaf yang komitmen mengikuti pembinaan juga mendapatkan bantuan kebutuhan dasar setiap bulannya berupa paket sembako yang terdiri dari beras, minyak goreng, terigu, gula pasir, dan mie instan.

 

“Diharapkan paket sembako tersebut dapat memotivasi para mualaf untuk tetap antusias dan konsisten mengikuti program pembinaan yang dijalankan,” kata Salahuddin.

Ia menjelaskan, program pemberdayaan ekonomi difokuskan pada potensi yang dimiliki oleh masyarakat mualaf Muslim Baduy. Baik kompetensi sumberdaya manusia maupun sumberdaya alam.

photo

Para mualaf Muslim Baduy memperdalam Islam dengan bimbingan Mualaf Center Baznas (MCB).

Pemberdayaan yang akan dilakukan berupa pelatihan dan pendampingan produksi hingga pemasaran gula aren yang merupakan produk utama yang ada di suku Baduy, serta aktivitas pertanian yang menjadi keahlian mereka. “Harapan kami, program tersebut mampu meningkatkan spiritualitas dan kesejahteraan mualaf suku Baduy,” ujarnya.

Menjelang awal tahun baru Hijriyah 1440H, MCB telah meresmikan program pembinaan dan pemberdayaan mualaf yang dilakuka pada Kamis (6/9),  di aula Desa Sangkanwangi. Lokasi program difokuskan di Desa Sangkanwangi, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Peresmian program tersebut dihadiri oleh perwakilan Baznas dan MUI Kabupaten Lebak, perwakilan Kecamatan, Polsek, Koramil, sekretaris Desa, tokoh masyarakat dan organisasi Islam setempat, serta 50 mualaf yang berasal dari suku Baduy.

“Seluruh pihak menyambut antusias program dan diharapkan mampu menjadi katalisator peningkatan kualitas hidup mualaf dalam bingkai akidah yang kuat dan akhlak Islami,” papar  Salahuddin El Ayyubi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES