Selasa, 10 Zulhijjah 1439 / 21 Agustus 2018

Selasa, 10 Zulhijjah 1439 / 21 Agustus 2018

Austin Roe Tertarik dengan Ritual Shalat

Senin 23 Juli 2018 16:25 WIB

Red: Agung Sasongko

Mualaf (ilustrasi)

Mualaf (ilustrasi)

Foto: Onislam.net
Ia ingin hidup di tengah keluarga Muslim yang tenang dan damai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  "Aku berdoa begitu keras setiap hari, lebih dari lima kali sehari, meminta Allah untuk membantuku," ujar Austin Roe, setelah memeluk Islam di usianya yang baru 10 tahun. Lahir dari keluarga broken home, Austin meminta pertolongan hidup dari Allah. Ia ingin hidup di tengah keluarga Muslim yang tenang dan damai.

Masa kecil Austin memang sangat kelam. Saat masih kecil, ia dibawa sang ayah yang merupakan seorang pecandu narkoba. Ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang pemarah. Alhasil, Austin tumbuh besar dengan akhlak yang buruk. Sempat kabur menggelandang di jalanan, Austin kemudian menemukan jalan Islam.

"Kisahku menjadi seorang Muslim saat usia 10 tahun mungkin menjadi hal yang luar biasa, tetapi itu sangat nyata. Aku ingin berbagi ceritaku ini yang semoga dapat bermanfaat bagi anak-anak lain yang merasakan masalah yang sama seperti yang aku lalui," kata Austin, membagi kisahnya kepada IslamOnline.

Sejak usia kelahiran enam pekan, Austin dibawa pergi sang ayah. Austin yang masih merah itu dijauhkan dari ibu dan kakak perempuannya, kemudian menjalani hidup serba kekurangan dengan ibu tiri. Hidup besar oleh ayah pecandu dan ibu tiri yang galak mencetak Austin menjadi anak yang pemarah dan temperamental.

Suatu hari, sang ibu yang terus mencari keberadaan Austin pun kemudian menemukan anak laki-lakinya itu. Austin pun segera dibawa pergi secara diam-diam. Kehidupan Austin membaik, meski hidup dengan seorang ibu yang bekerja di bar dan ia hanya diurus oleh baby sitter. Namun tak lama, sang ayah mendatangi rumah ibu Austin dan membawa kembali anak malang itu.

Kembali hidup bersama sang ayah, Austin berontak. Ia enggan pergi ke sekolah dan selalu berbuat onar. Karena perilakunya yang sangat buruk, Austin dikeluarkan dari sekolah. Sang ayah kewalahan, Austin dibuang di depan pintu rumah ibu kandungnya. Sang ibu pun sangat gembira kemudian memasukkan Austin ke sekolah yang baru bersama kakak perempuannya. Namun, Austin memang berperangai buruk. Ia kembali diusir dari sekolah.

Sang ibu tak putus asa. Ia begitu sedih melihat anak laki-laki semata wayangnya tumbuh dengan akhlak yang buruk. Austin pun dibawa ke rumah neneknya. "Ibu membawaku ke rumah nenek dengan menggunakan pesawat. Lokasinya jauh sekali. Nenek sangat penyayang, namun tegas saat aku bandel. Dia tak pernah membentakku. Saat aku berbuat buruk, ia akan menyuruhku memindahkan potongan-potongan kecil kayu yang jumlahnya banyak, dari satu tempat ke tempat lain. Awalnya aku tentu saja marah. Namun, ketika selesai memindahkan kayu-kayu itu, marahku redam. Ini seperti sebuah permainan," ujar Austin tersenyum simpul.

Delapan bulan tinggal bersama sang nenek cukup menyembuhkan sifat pemarah Austin. Masih terngiang dalam benak Austin bagaimana sang nenek dengan lembut memangkunya dan mengisahkan cerita-cerita dalam Injil. Austin sangat merindukan petuah-petuah nenek yang begitu bijak hingga membuatnya giat sekolah dan tak lagi bandel. "Nenek memberitahuku agar berdoa kepada Tuhan setiap kali merasa marah atau kecewa," kenang Austin.

Austin kembali ke rumah ibunya. Kegembiraan dan kebahagiaan meliputi hati Austin dan sang ibu. Namun, lagi-lagi, sang ayah mengacau. Melihat Austin telah menjadi anak baik, ia mengambil anaknya kembali. Selama tinggal dengan sang ayah dan ibu tiri, Austin selalu disiksa. Kepalanya sering kali dipukul dengan kayu keras oleh sang ibu tiri.

Ayahnya pun sama, sering kali membenturkan kepala Austin ke meja. Rumah ayahnya pun dipenuhi barang-barang haram seperti narkotika, majalah dan film porno, dan sebagainya. Kehidupan itu terus dilalui hingga duduk di bangku kelas empat. "Aku tak tahu apakah ada cara lain untuk hidup. Lupa sudah ajaran nenek untuk berdoa," ujarnya.

Singkat cerita, Austin kembali menjadi anak yang pemarah. Bahkan, lebih parah dari sebelumnya, Austin menjadi seorang preman. Ia mencuri, memukul orang, bahkan mengisap narkoba. Saat menjadi pecandu akut, Austin dibuang. Baik sang ayah maupun ibu tak ada yang menginginkannya kembali. Padahal, saat itu Austin masih seorang anak kecil berusia 10 tahun. "Banyak yang tak percaya ada anak 10 tahun yang sedemikian jahat sepertiku. Tapi, itulah aku di masa lalu," kata Austin.

Diselamatkan Muslimin

Setelah berkeliaran hidup tak jelas, Austin menemukan harapan baru. Takdir Allah mempertemukannya dengan sepasang suami-istri Muslim bernama Waseem dan Jumaana. Suami-istri itu membawa Austin ke rumah mereka. Dengan sabar mereka membimbingnya untuk sembuh dari jeratan narkoba. Dari sini, kebahagiaan Austin dimulai.

Austin berangsur pulih dari ketergantungan. Ia berusaha meredam amarah, apalagi ia belum diizinkan keluar rumah orang tua Muslim tersebut. Untuk sekolah, Austin mendapat home schooling. Namun, Austin merasa begitu damai. Ia hidup nyaman meski dengan orang asing.

Makin lama hidup bersama Waseem dan Jumaana, Austin memperhatikan perilaku mereka. Setiap hari, Austin mendapati keduanya rajin beribadah. Rasa penasaran tumbuh di hati Austin. Ia pun mulai bertanya, mengenai ritual shalat dan agama Islam. Austin ingin ikut serta beribadah. Ia pun minta ibu barunya mengajarkannya shalat. Austin merasakan sesuatu hal berbeda, sesuatu yang baru dalam hidupnya, yang membawa kedamaian yang sangat.

"Aku berpikir itulah saatnya aku berhenti menjadi anak nakal dan memikirkan hal lain. Aku merasa lebih tenteram dan damai. Aku merasa begitu ingin menjadi seorang Muslim tapi tak tahu bagaimana caranya. Aku pun berkata pada mereka, "Saya ingin menjadi seorang Muslim," ujarnya.

Mendengar keinginan Austin, Waseem dan Jumaana begitu gembira. Mereka memeluknya kemudian memberi pengetahuan mengenai Islam kepadanya. Mereka tak mau Austin menjadi mualaf karena bukan dari keinginan hati. Setelah membaca banyak buku-buku anak tentang Islam, Austin makin jatuh cinta pada risalah yang dibawa Rasulullah. Ia pun kemudian memeluk Islam dan mengubah namanya menjadi Waa'il Abdul Salaam. Saat itu usianya baru 10 tahun.

Mendapat Kebahagian

 

Setelah masa hidup yang begitu pahit, Austin akhirnya mendapat kebahagiaan. Islam membawanya pada hidup yang begitu baik. Namun, suatu hari ia merasa khawatir, bagaimana nasib ke depan hidupnya. Bagaimana jika Waseem dan Jumaana membuangnya seperti ayah dan ibunya di masa lalu. Jika demikian, dengan siapa ia akan tinggal.

Setiap hari ia pun menengadahkan tangan, memanjatkan doa agar Allah membantunya. Hanya Allah, satu-satunya yang dapat membantu Austin. "Aku berdoa begitu keras setiap hari, lebih dari lima kali sehari, meminta Allah untuk membantuku," ujarnya.

Doanya terijabah, ia kemudian diadopsi oleh suami-istri Muslim. Yang mengadopsi Austin pun bukan lain adalah Waseem dan Jumaana. Austin sangat gembira dan bersyukur. Ia merasa kedamaian dan kebahagiaan yang sangat saat bersama mereka. Saat ini ia telah menjadi pemuda tampan dan telah enam tahun berislam.

Sumber : Oase Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Jamaah Haji Berwukuf di Arafah

Senin , 20 Agustus 2018, 23:56 WIB