Thursday, 7 Syawwal 1439 / 21 June 2018

Thursday, 7 Syawwal 1439 / 21 June 2018

Chris Tarantino: Islam Menyapaku Lewat Perang

Jumat 23 February 2018 19:09 WIB

Rep: Ani Nursalikah/ Red: Agung Sasongko

Perang Irak

Perang Irak

Sejak berislam, keluarga ini semakin religius.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Segala sesuatu tampak serba diatur oleh Penguasa Alam Semesta, begitu kesimpulan Chris Tarantino saat memutuskan untuk berislam. Bagaimana tidak, pria kelahiran Kissimmee, Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, itu tak tebersit sedikit pun untuk berikrar syahadat. Semua bermula dari perang. Ya, perang.

Chris terdaftar di Angkatan Darat pada 1998, sebelum kelompok Islam radikal menyerang New York dan Washington DC. Dia pernah ditugaskan berperang di dua negara Muslim.

Selama satu dekade bertempur di negara-negara Muslim, beberapa tentara terkadang harus dihadapkan dengan persepsi negatif bahwa para tentara yang bertugas di daerah-daerah Muslim tersebut adalah musuh kaum Muslim.

Meski dia mengatakan tidak pernah mempunyai perasaan positif atau negatif tentang Muslim, bahkan ketika menuju ke Irak. Sebagai prajurit, ia hanya menjalankan perintah. Doktrin yang ia terima, bahwa ketidaktahuan adalah kebahagian. Ia pun merasa sangat bodoh saat itu. ”Yang saya tahu adalah kami akan memerangi terorisme,” katanya.

Penugasannya ke Irak pada 2006 menjadi embrio awal persinggungan Chris dengan Islam, sekalipun ia tak menyadarinya secara langsung. Sang istri, Cristina Tarantino, mulai mempertanyakan tentang hidup dan mati. Pertanyaan inilah yang kemudian menuntunnya kepada Islam.

Cristina betul-betul takut sesuatu yang buruk akan menimpa suaminya dalam tugas. Dia mulai bertanya-tanya apa yang terjadi setelah kematian dan bagaimana menjalani hidup terbaik di bumi.

Dia menghabiskan waktu dengan kakak perempuannya yang telah masuk Islam setelah menikah dengan seorang warga Palestina. Dia mencari bimbingan dari kakaknya. Jawaban-jawaban kakaknya tentang Islam sangat masuk akal bagi Cristina. Dia juga merasakan ketenangan.

Di sela-sela komunikasi lewat sambungan telepon dengan suaminya di Camp Taji, Irak, keduanya berdiskusi perihal kemajuan spiritual yang dialami istrinya. Chris tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat sang istri mengatakan ia telah menerima Islam.

Pertanyaan pertamanya kepada sang istri adalah apakah ia telah mulai mengenakan jilbab. Saat itu, Cristina mengatakan belum siap untuk berjilbab. Chris tidak banyak bertanya pada istrinya. Alih-alih, ia selalu memohon petunjuk dalam doanya.

Beberapa tahun kemudian, saat ia ditugaskan kembali ke Irak pada 2010, tentara berambut pirang dan bermata biru itu akhirnya memutuskan berislam. Dengan jiwa kesatria, ia proklamasikan keislamannya. “Menjadi Muslim bukanlah akhir dari dunia," kata dia.

Religius

Seiring perjalanan waktu, pasangan suami istri ini semakin religius. Mereka kerap megunjungi sebuah masjid Suni di Mannheim. Dari sana mereka belajar bahwa seluruh ide radikal dan berjihad dengan mengandalkan kekerasan kepada Barat adalah gagasan yang benar-benar salah.

Chris mengatakan, ia mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. Dia mengaku tidak mengasosiasikan diri dengan radikalisme apa pun.

Namun, Chris memiliki situasi keterasingan. Dia adalah satu-satunya tentara AS di Masjid Al-Faruq Omar, Jerman, bagian dari Muslim minoritas di militer. Bahkan, salah satu dari sangat sedikit tentara Muslim yang tidak berasal dari keluarga asli Muslim atau keturunan Afrika-Amerika Muslim.

Berubah

Meski keputusan Chris dan istrinya untuk memeluk Islam bersifat pribadi, bukan politis, pandangannya mengenai perang di Irak dan Afghanistan dan perang secara umum telah berubah. Pemikiran Chris mengenai perang benar-benar berubah 180 derajat.

Dia memaknai benar ayat Alquran yang menyebutkan membunuh satu orang yang tidak bersalah sama artinya dengan membunuh semua orang. Dan, menyelamatkan satu orang sama artinya menyelamatkan seluruh dunia.

Sebagai bagian dari gagasan itu, pasangan ini membantu membentuk sebuah kelompok nonprofit untuk mengirim persediaan makanan dan obat-obatan ke Somalia. Cristina adalah salah satu dari tujuh orang di masjid mereka yang membentuk kelompok Islamischer Humanitaerer Entwicklungsdienst atau Islamic Humanitarian Development Service (www.IHED.de)

Hanya dalam beberapa pekan, badan amal ini telah mengumpulkan dan mengirim 135 ton makanan dan obat-obatan. Semua bantuan dikumpulkan, diatur, dan dilakukan selama Ramadhan.

Di rumah, keluarga Tarantino terus mempelajari iman baru mereka dan berusaha menjalankannya semaksimal mungkin. Ketika meninggalkan rumah, Cristina memakai baju lengan panjang, rok panjang, dan jilbab. Banyak orang yang melihatnya dengan tatapan aneh. "Saya merasa seperti astronaut," katanya.

Tetapi, suaminya tidak pernah bermasalah dengan berinteraksi. Tentara di unitnya mengetahui dia seorang Muslim. Chris bisa meluangkan waktu untuk shalat. Dia juga berbicara tentang Islam kepada rekannya sebagai caranya berdakwah. Pada akhirnya, mereka menghormati Chris dan bahkan mengingatkannya waktu shalat.

Ia berencana keluar dari Angkatan Darat tahun depan dan pindah bersama keluarganya ke Amerika Serikat. Cristina berencana terus mengejar gelar sarjana di bidang komunikasi. Chris berencana melanjutkan studi di Embry-Riddle Aeronautical University.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Spanyol Taklukkan Iran 1-0

Kamis , 21 June 2018, 03:21 WIB