Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Elena Sharomova: Islam, Roti Penghilang Dahaga Spiritual

Kamis 11 Jul 2013 15:03 WIB

Rep: Agung Sasongko/ Red: A.Syalaby Ichsan

Mualaf (ilustrasi).

Mualaf (ilustrasi).

Foto: yhyqart.com

REPUBLIKA.CO.ID, MOSCOW -- Eforia keberhasilan Uni Soviet mengangkasa menjadi latarbelakang pertumbuhan Elena Sharamova sewaktu kecil. Elena masih teringat bagaimana cerita hebat itu diceritakan berulang kali oleh orangtuanya. 

"Aku dibesarkan dalam cerita itu. Kira-kira, masyarakat Rusia kala itu percaya mereka sebentar lagi bisa melihat Tuhan," kenang dia seperti dikutip Onislam.net, Kamis (11/7).

Di luar itu, kata dia, kehidupan masyarakat Rusia begitu monoton dan dibatasi. Cerita yang ada hanyalah ateisme, Lenin, Stalin, kalau pun ada cerita lain hanya bisa diceritakan dikeluarga saja. Lalu bagaimana dengan kehidupan agama, Elena mengaku kehidupan gereja mulai terjaga ketika mereka mendapatkan kekuasaan.

"Saat itu, masyarakat menaruh harapan pada gereja akan kehidupan yang lebih baik. Ini jadi semacam eforia massal," kata dia.

Namun, Elena tidak seperti kebanyakan masyarakat Rusia dimana ia tidak tertarik dengan eforia itu. Ada yang mengganjal dalam ajaran gereja. Ia tidak percaya Tuhan punya anak. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul, seperti seperti apa kehidupan sesudah kematian, makna hidup di dunia.

"Jujur, aku ketakutan sekali. Karena tidak punya pegangan apapun. Meski sebenarnya aku punya keluarga yang bahagia," kata dia.  Karena itu, setiap kali Elena ditanyakan soal agama, ia merasa panik. Setelah itu, ia mulai berdiskusi yang lagi-lagi muncul banyak pertanyaan.

Seiring perjalanan waktu, ketika ia kembali ke kampus, ia menemukan Islam. Agama ini begitu asing dimatanya. Suatu hari, ia baca Alquran surat At-Taubah ayat 5. Dari ayat Alquran itu, Elena merasa terkejut karena ia memilih agama tapi bukan Islam.

Selesai kuliah di Rusia, Elena melanjutkan studi di Jerman. Di sana, ia mendapatkan lebih banyak informasi tentang Islam dan Muslim. Apalagi ia banyak berinteraksi dengan komunitas Muslim Turki. "Banyak pandangan Islam yang aku dapat dari mereka. Jujur, aku merasakan kenyamanan dan kejujuran dalam Islam."

Dalam satu obrolan, Elena bertanya soal dosa turunan dalam ajaran Kristen. Oleh kolega Turkinya itu, Elena diberitahu bagaimana pandangan Islam soal itu. Dijelaskan, dalam Islam setiap orang tak ubahnya secarik kertas. Apa yang dilakukan setiap manusia akan tercatat di kertas itu. 

"Jujur aku mendapatkan jawaban yang logis. Aku terpesona," kata dia. Sejak itu, Elena mulai mengambil langkah drastis. Ia banyak membaca literatur tentang Islam. Salah satu literatur yang dibacanya berkisah soal Nabi Muhammad SAW. Ia pun semakin terpesona karena itu. 

Kelar studi di Jerman, Elena melanjutkan studi bahasa ke Italia. Di sana, tanpa diduga ia bertemu dosen berjilbab. Elena pikir, dosen itu seorang perempuan Arab. Ternyata, ia merupakan asli Italia.

"Aku belum pernah bertemu dengan perempuan berjilbab. Saat itu, aku masih menganggap jilbab merupakan wujud perlakuan berbeda dalam Islam," kata dia.

Pandangan Elena mulai berubah ketika ia bertemu Nura, Muslimah Italia. Banyak diskusi yang terjadi diantara mereka. Melalui Nura, Elena mulai belajar Alquran. Fase inilah puncak dari kekagumannya terhadap Islam. 

"Pada akhirnya, aku jatuh cinta kepada Allah dan Islam. Dua hal ini menghilangkan rasa laparku,  itulah roti kehidupan yang kudapat dari-Nya, Alhamdulillah," ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA