Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Alexander Litvinenko, Hidayah Jelang Kematian (2)

Senin 17 Sep 2012 06:48 WIB

Rep: Nidia Zuraya / Red: Chairul Akhmad

Alexander Litvinenko

Alexander Litvinenko

Foto: guardian.co.uk

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam wawancara dengan surat kabar Rusia, Kommersant, yang dikutip Times Online edisi 5 Desember 2006, Walter mengatakan, anaknya yang semula memeluk Kristen Ortodoks menyatakan permintaan terakhirnya sebelum meninggal, yaitu agar ia dimakamkan secara Islam.

“Dia bilang, Saya ingin dikubur menurut tradisi Muslim. Saya bilang, baik anakku, semuanya akan dilakukan seperti yang engkau inginkan. Kami sudah memiliki seorang Muslim di keluarga kami. Namun, yang paling penting adalah meyakini Yang Mahabesar, Tuhan itu satu,” tutur Walter.

Sementara seorang kolega Litvinenko, Ghayasuddin Siddiqui, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Parlemen Muslim Britania Raya, mengungkapkan bahwa Litvinenko telah resmi memeluk Islam 10 hari sebelum ia diracun.

Sedangkan Akhmed Zakayev, yang pernah bertetangga dengan Litvinenko, berkata, “Sehari sebelum kematiannya, dia (Litvinenko) minta dibacakan Alquran dan mengatakan kepada istrinya dan anggota keluarga lainnya bahwa dia menginginkan agar dimakamkan dalam tradisi Islam.”

Tak diperoleh keterangan alasan Litvinenko memeluk Islam. Namun, dari beberapa situs yang mengungkapkan perjalanan kariernya, tampaknya Litvinenko kecewa pada sikap Pemerintah Rusia yang selalu memerangi kelompok Muslim Chechnya.

Karena itu pula, sejumlah situs mengungkapkan, pembunuhan atas Litvinenko terkait dengan sejumlah pernyataannya yang menyinggung kebijakan Pemerintah Rusia saat itu.

Selain itu, ketertarikan Litvinenko pada Islam tampak dengan sikap umat Islam yang damai dan akan bertindak bila mereka terdesak demi mempertahankan diri. Ia melihat umat Islam senantiasa berjuang untuk perdamaian.

Ayahnya, Walter Litvinenko, mengatakan anaknya itu tumbuh kecewa dengan apa yang disebut hierarki dalam gereja Ortodoks Rusia. Ia sudah berusaha menyampaikan ketidaksimpatikannya atas sikap gereja, namun tak dituruti.

Lelaki pembangkang kelahiran Voronezh, Rusia, 4 Desember 1962, ini mulai bergabung dengan badan kontraintelijen Soviet, KGB, pada 1988. Setelah negara Uni Soviet bubar dan berganti nama menjadi Republik Federasi Rusia, pada 1991, ia dipromosikan ke bagian staf umum Dinas Keamanan Federal Federasi Rusia (FSB), dengan spesialisasi dalam kegiatan kontraterorisme dan infiltrasi dalam kejahatan yang terorganisasi.






BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA