Wednesday, 22 Zulhijjah 1441 / 12 August 2020

Wednesday, 22 Zulhijjah 1441 / 12 August 2020

Mantan Pendeta Hindu yang Mendapat Hidayah (1)

Senin 11 Jun 2012 13:53 WIB

Red: Chairul Akhmad

Ilustrasi

Ilustrasi

Foto: ccfc-ye.org

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH – Kembali ke kamar kontrakannya usai shalat Isya, Abdur Rahman (42), duduk dengan pena dan kepala penuh ide. 

Dia tengah menulis kisah hidupnya, "Pandit Bane Musalmaan" (Pendeta Hindu yang Menjadi Muslim) dalam bahasa ibunya, Hindi.

Warga negara India ini bekerja sebagai penjaga toko di Perusahaan Konstruksi Saudi Binladin BTAT, pada Proyek King Abdul Aziz Endowment, seberang Masjidil Haram, Makkah.

Sebelum datang ke Jeddah (12 Mei 2002) dan memeluk Islam, Abdur Rahman dikenal sebagai Sushil Kumar Sharma. 

Kampung halamannya di Amadalpur, sebuah desa kecil di Haryana, negara bagian India sebelah utara. Ia lahir dalam keluarga Hindu ortodoks dengan keistimewaan memimpin ritual keagamaan di kuil desa.

Saat tinggal di tempat penampungan perusahaan di Jeddah, seorang kawan memberinya beberapa buku Islam dalam bahasa Hindi. Ia kemudian dipindahkan ke Riyadh untuk bekerja pada sebuah proyek di kampus perempuan Universitas Putri Noura.

"Di tempat penampungan itulah saya bertemu sejumlah Muslim dari India dan Pakistan yang menjelaskan tentang agama Islam kepada saya," tutur Sharma.

Salah satu di antara mereka adalah sahabat karib Sharma. Namanya Salim, berasal dari Rajasthan—sebuah negara bagian di barat laut India. Mereka berdua tinggal dalam satu kamar. Saat-saat senggang, Salim menceritakan kisah-kisah nabi dalam Islam dan membacakan hadis Rasulullah SAW.

"Hati saya bergetar. Dan saya mulai bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa yang akan terjadi padaku setelah mati? Apakah aku akan masuk neraka selamanya karena dosa-dosaku? Saya takut dengan azab kubur bagi orang-orang berdosa dan kafir," ungkap Sharma.

Ia pun mulai menghabiskan malam tanpa dapat memejamkan mata. Ia merasa sudah waktunya untuk memeluk Islam dan menjadi seorang pengikut Nabi Muhammad yang setia. Akhirnya, pencarian panjang Sharma akan kebenaran menemui ujungnya.

"Keesokan harinya, saya mengungkapkan niat untuk memeluk Islam kepada Salim dan rekan-rekan lain di penampungan. Ada sorak kegirangan di tempat kerja kami. Semua orang bahagia, mereka mengucapkan selamat dan memelukku,” kenang Sharma.

"Bagi saya, Islam itu adalah sistem persaudaraan universal yang tidak mengenal kasta, perbedaan, warna kulit, atau ras. Inilah yang membuat saya tertarik pada Islam," ujarnya.

 

 

 

sumber : Saudi Gazette
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA