Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Pembinaan Mualaf Via Digital Rentan Disalahpahami

Rabu 28 Sep 2011 15:16 WIB

Rep: Agung Sasongko/ Red: Siwi Tri Puji B

Mualaf baru, ilustrasi

Mualaf baru, ilustrasi

Foto: Republika/Wihdan Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pembinaan mualaf tidak lagi berkembang sebatas pengajian tatap muka. Dengan perkembangan teknologi demikian canggih, pembinaan mualaf dapat dilakukan melalui jejaring sosial atau pesan instan ponsel asal Kanada.

Perkembangan itu sangat baik tapi memiliki sisi rentan yang harus diperhatikan. Sebab tidak mungkin muncul kesalahpahaman.

Pengiat dakwah di kalangan Mualaf, Steven Indra mengamati niat baik itu terkadang tidak sesuai dengan arah tujuan. Artinya, ada kesan kurang awas dalam niat tersebut. Misalnya dalam satu kasus, ada anggota kelompok mengatakan kepada mualaf, "Anda kayaknya bukan Muslim, dalam istilah Islam itu tidak ada puji Tuhan. Puji Tuhan itu identik dengan keyakinan agama lain." Padahal, sang mualaf baru dua bulan ini belajar Islam, katanya.

Menurut Steven, contoh kasus yang dipaparkan tadi mengindikasikan setiap Muslim yang berniat membantu mualaf perlu memperhatikan sejauh mana pengetahuannya tentang Islam. Selanjutnya, tidak perlu memberikan tanggapan terhadap pertanyaan mualaf apabila tidak mampu menjawabnya.

"Tidak sedikit kesalahpahaman tentang Islam dan Muslim lantaran kurang memperhatikan dua hal itu," paparnya saat berbincang dengan republika.co.id.


Steven menjelaskan secara karakteristik kelompok diskusi itu biasanya juga beranggotakan Muslim sejak lahir. Mereka lalu terbagi dua, ada Muslim sejak lahir dengan pengetahuan agama yang cukup dan ada pula yang baru dalam tahap belajar. "Yang perlu diperhatikan, ada anggota yang baru memeluk Islam dan tidak tahu apa-apa," katanya.

Indra mengatakan mualaf tidak membutuhkan ulasan yang panjang, lengkap dan rumit, dengan mengutip judul kitab, tafsir atau sebagainya. Yang dibutuhkan adalah petunjuk yang sederhana dan bisa dipahami secara langsung.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA