Selasa, 11 Rabiul Akhir 1440 / 18 Desember 2018

Selasa, 11 Rabiul Akhir 1440 / 18 Desember 2018

Sentimen Negatif Terhadap Muslim di Jerman Meningkat Tajam

Kamis 08 Nov 2018 22:30 WIB

Red: Didi Purwadi

Illustrasi Islamophobia(18/3).

Illustrasi Islamophobia(18/3).

Foto: Republika/Mardiah
Warga Jerman merasa seperti orang asing di negeri sendiri sebab banyak orang Muslim.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Sentimen negatif terhadap orang Muslim, migran dan pencari suaka telah meningkatn tajam di Jerman. Demikian hasil satu studi oleh Leipzig University.

Hampir 55 persen orang Jerman menyatakan mereka merasa seperti orang asing di negeri mereka sendiri sebab banyak orang Muslim. Pada 2010 sebelum krisis pengungsi, sebanyak 33 persen responden memiliki pandangan seperti itu.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa kebencian terhadap orang asing menjadi tersebar makin luas di seluruh Jerman. Di antara sebanyak 36 persen orang yang dimintai tanggapan, mengatakan Jerman berbahaya dipenuhi orang asing.

''Lebih seperempat dari mereka percaya orang asing mesti dikirim kembali ke negara asal mereka kalau terjadi kekurangan lapangan kerja di Jerman,'' demikian laporan kantor berita Anadolu, seperti dikutip Antara di Jakarta, Kamis (8/11).

Profesor Elmar Braehler, yang melakukan penelitian itu bersama dengan Dr. Oliver Decker, mengatakan xenofobia dan praduga buruk terhadap orang Muslim menyulut lonjakan partai sayap kanan-jauh Alternative for Germany (AfD). "Rakyat yang memiliki pandangan kanan-jauh sekarang berpaling dari Uni Kristen Demokrat dan Partai Sosial Demokrat dan menemukan rumah baru di AfD," katanya.

AfD, yang mensahkan retorika terbuka anti-Islam, berkilah bahwa negeri itu berada di bawah ancaman Islamisasi. Ancaman terutama hadir setelah hampir satu juta pengungsi --kebanyakan dari Suriah dan Irak-- tiba di negeri tersebut sejak 2015.

Jerman, negara dengan lebih dari 81 juta warga, memiliki warga Muslim paling banyak kedua di Eropa Barat setelah Prancis. Di antara hampir 4,7 juta orang Muslim di negeri itu, tiga juta berasal dari Turki.

Selama beberapa tahun belakangan ini, negeri tersebut telah menyaksikan peningkatan Islamofobia dan kebencian terhadap migran akibat propaganda dari partai sayap kanan-jauh dan populis. Mereka yang telah memanfaatkan ketakutan akibat terorisme dan krisis pengungsi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES