Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Alasan Medis Mengapa Delima Disebutkan dalam Alquran

Selasa 16 Oct 2018 19:35 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Erdy Nasrul/ Red: Nashih Nashrullah

Buah pome atau delima.

Buah pome atau delima.

Foto: Pixabay
Khasiat delima mulai dari kesehatan hingga kecantikan.

REPUBLIKA.CO.ID, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, kurma dan delima adalah buah yang lebih unggul dibandingkan lainnya. Tradisi kedokteran Islam dulu juga memanfaatkan delima untuk pengobatan, seperti yang dilakukan ar-Razi (854–925) dan Ibnu Sina (980-1037). 

Baca Juga

Manfaat pengobatan buah ini tersebar luas ke berbagai penjuru dunia, seperti di timur, mediterania, dan Afrika. Delima tercatat dalam obat-obatan yang menyembuhkan 15 penyakit (Levin GM: 2006).

Di antara khasiat buah ini adalah menjaga kesehatan jantung dan usus, mencegah cacing pita, dan menyembuhkan disentri. Ibnu Sina menyebut kegunaan lainnya dari delima, yakni kulit buahnya mampu mengusir serangga. 

Di alam, burung-burung kerap memakai kulit delima sebagai unsur penyusun sarangnya. Alhasil, hama pengganggu tidak menjangkiti di dekat telur-telur mereka.

Delima juga berfaedah untuk kosmetik. Mengutip buku Mukjizat Kedokteran Nabi,  kulit delima yang telah dihangatkan dalam air mendidih dapat dicampur dengan ekstrak pohon inai. 

Campuran itu lantas ditumbuk hingga halus, kemudian dibalurkan pada rambut. Efeknya, rambut akan tampak segar, berkilau, serta mencegah kerontokan. 

Manfaat lainnya dari kulit delima untuk membunuh cacing pita di usus. Caranya dengan direbus, lalu minumlah air hangat dari hasil rebusan itu. Cendekiawan besar Muslim, Ibnu Sina, termasuk yang menyarankan metode tersebut.

Berbicara soal nutrisi, setiap buah delima mengandung 10 persen zat pemanis, satu persen asam limun, 80 persen air, dan tiga persen protein. Di dalamnya juga terdapat kandungan vitamin A, B, C, dan D serta kadar besi, kalsium, potasium, dan fosfor. 

Baca juga, https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/10/16/pgouy2320-disebutkan-alquran-dari-manakah-asal-buah-delima

Bulir-bulir delima juga menjadi sumber yang baik untuk kebutuhan serat harian. Bagi mereka yang ingin diet, mengonsumsi buah ini meski hanya dalam porsi kecil, sudah membantu mengurangi keinginan makan karena rasa kenyang yang awet.

Untuk menjaga daya tahan tubuh, memakan buah delima juga menjadi opsi yang disarankan. Buah ini bahkan digelari superfood lantaran mengandung antioksidan yang amat baik untuk mendukung kekebalan tubuh dari bibit-bibit penyakit. 

Delima diketahui mampu memenuhi asupan 40 persen kebutuhan vitamin C harian. Khasiatnya juga untuk menurunkan kadar kolestrol, melancarkan aliran darah, sehingga mencegah serangan jantung.

Merujuk pada buku Health Secret of Delima, buah delima yang dihaluskan dapat menjadi ramuan penghalus kulit. Bila disajikan dalam bentuk jus siap minum, delima berkhasiat meredakan radang tenggorokan.

Dengan rutin mengonsumsi satu gelas jus delima setiap hari, seseorang akan memeroleh asupan senyawa antioksidan polifenol 100 miligram.

Manfaatnya mengikis sel-sel kanker serta memulihkan dinding arteri agar tidak mengalami pengerasan. Ingat juga, biji delima sangat dianjurkan untuk dikonsumsi. 

Saat membuat jus, jangan sampai biji delima dibuang karena di sanalah kandungan polifenol. Antioksidan zat ini dinilai mampu mengurangi risiko penyakit jantung dan sakit pembuluh darah serta kanker. Pelbagai riset membuktikan bahwa polifenol berpotensi mengurangi risiko penyakit Alzheimer.

Bagi kaum hawa, bukan tanpa alasan delima dikaitkan dengan femininitas. Penelitian University of California, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa buah tersebut memiliki efek ekstrogenik. 

Artinya, kandungan delima dinilai bisa menangkal gangguan-gangguan menopause serta mencegah timbulnya sel-sel kanker pada organ reproduksi. 

Antioksidan delima diketahui khasiatnya lebih tinggi daripada teh hijau. Jus delima juga bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan sel kanker prostat.

Dalam ilmu kedokteran Timur, delima sudah lama dipakai untuk menyembuhkan sakit cacingan atau penawar racun. Khasiatnya untuk membersihkan sistem pencernaan sudah diketahui dan diterapkan oleh tabib-tabib tradisional Cina. Demikian pula bangsa Arab, India, dan Afrika Utara. 

Barulah ketika masa Perang Salib, orang-orang Eropa mulai “menemukan kembali” khasiat delima, buah yang sudah melegenda sejak era Yunani Kuno. 

Pakar pengobatan Yunani dari abad pertama Masehi, Dioscorides, telah menemukan efek dari delima yang menyembuhkan penderita sakit cacingan. 

Tidak hanya buahnya. Kulit pohon delima juga menjadi sumber ramuan penyembuh luka luar. Bunganya dipakai sebagai pewarna tekstil alami.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA