Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Di Mana Kaum Shabi'un Menetap?

Jumat 18 Sep 2015 10:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Kota Harran, Irak

Kota Harran, Irak

Foto: Wikipedia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ibnu Taimiyah RA berpendapat menurut Ibnu Katsir, inilah pendapat yang paling sahih dalam buku Bantahan terhadap Para Ahli Logika bahwa Harran adalah negeri kaum Shabi`un.

Di Kota Harran (Irak) ini, terdapat patung-patung, seperti patung dalil pertama, patung akal pertama, patung nafsu keseluruhan, patung saturnus, patung jupiter, patung mars, patung matahari, venus, merkurius, dan bulan. Patung-patung itu menjadi agama mereka sebelum lahirnya agama Nasrani. Lalu, lahir Nasrani di tengah-tengah mereka. Sebagian mereka mengimaninya dan sebagian lagi musyrik.

Ditambahkan Ibnu Katsir, Masjid Jami' yang kini ada di Damaskus dahulunya adalah tempat ibadah mereka yang besar yang berkiblat ke Kutub Utara. Kaum Shabi`un ini terbagi dua jenis, yakni yang hanif (lurus) dan bertauhid serta orang-orang musyrik. Shabi'un jenis pertama adalah orang-orang yang dipuji Allah sebagai orang-orang yang beriman kepada-Nya dan hari kiamat serta suka beramal saleh, sebagaimana ayat 62 surah Albaqarah di atas.

Hal yang sama juga diungkapkan Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilal al-Qur`an tentang maksud ayat 62 surah Albaqarah di atas. Menurutnya, Shabi`un adalah orang-orang musyrik Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Ketika itu, mereka berada dalam keragu-raguan terhadap tindakan kaumnya yang menyembah berhala, lalu mereka mencari akidah sendiri yang mereka sukai dan kemudian mendapat petunjuk kepada akidah tauhid (monotheis).

''Jadi, mereka itulah yang disebut dengan keluar dari agama nenek moyang mereka. Pendapat ini lebih kuat daripada pendapat lain yang mengatakan bahwa mereka itu adalah penyembah bintang sebagaimana disebutkan dalam beberapa tafsir,'' jelas Quthb.

Imam Al-Khalil dalam Tafsir al-Qurthubi menjelaskan, mereka adalah penganut sebuah agama yang mirip dengan agama Nasrani, tetapi kiblat mereka tertuju ke arah selatan. Mereka mengatakan bahwa mereka itu pengikut dari agama yang dibawa oleh Nabi Nuh AS.

Syauqi Abu Khalil dalam kitabnya Athlas Al-Qur`an menjelaskan, orang Shabi`un yang disebutkan dalam Alquran adalah orang-orang yang hanif dan bertauhid kepada Allah SWT. Mereka datang lebih dahulu daripada orang-orang Yahudi ataupun Nasrani. Dalam Athlas Hadits, Syauqi menyebutkan, kaum Shabi`un ini adalah pengikut agama Nabi Nuh AS.

Mereka hanya menyembah Allah SWT sebagai pencipta alam semesta ini. Mereka juga mengakui dan membenarkan akan dikembalikannya fisik umat manusia kelak pada hari kiamat. Kemudian, akidah mereka berkaitan dengan planet dan bintang-bintang sehingga mereka dituduh sebagai penyembah berhala.

''Shabi`un atau Shabi`ah merupakan satu kelompok keagamaan yang sudah ada sejak dulu dan hingga kini masih ada. Kelompok ini hidup di sebelah utara Irak, yakni Harran. Sebagian mereka ada yang pindah ke Baghdad dan daerah lainnya pada masa Abbasiyah I. Di antara mereka ada juga yang memeluk Islam,'' tulis Syauqi.

Ditambahkanya, kaum Shabi`un ini memberi perhatian besar terhadap ilmu alam. Mereka menukilkan banyak ilmu pengetahuan dari peninggalan Yunani dan Suryani ke dalam bahasa Arab. Sekarang ini, jumlah mereka tinggal sedikit di Kota Harran, Irak. Akidah mereka ini, ungkap Syauqi, diliputi oleh sesuatu yang sangat dirahasiakan sebab mereka khawatir akidah itu akan bergeser dan berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Seperti diungkapkan Abdullah Yusuf Ali, dalam Holy Koran, sejumlah penelitian terakhir mengungkapkan adanya sebuah kelompok kecil suatu komunitas agama berjumlah sekitar 2.000 orang di Irak, dekat Basrah. Mereka itu disebut dengan Shabi`ah, Sabians, Nasoreans, Mandaeans, atau Christian of St John. Mereka mengklaim sebagai orang-orang yang mengakui adanya the Great Life (Tuhan). Mereka berpakaian putih dan percaya kepada penyucian berkala dengan menggunakan air. Kitab mereka, Ginza, menggunakan suatu dialek dari bahasa Aram.

Dalam situs worldreligions.ca, disebutkan, Mandaeans percaya bahwa tradisi mereka berasal dari Nabi Adam. Mereka menganggap Adam, Nuh, beberapa anak Nuh dan cucu Nuh, serta Yahya bin Zakaria (atau Yohanes Pembaptis) sebagai nabi-nabi. Yahya bin Zakaria (atau Yohanes Pembaptis) bukanlah pendiri agama ini, melainkan hanyalah guru utama mereka.

Dalam bahasa Aramaic-Mandic, berasal dari akar kata Shaba, baptis berarti mencelupkan diri ke dalam air atau terbit. Sementara itu, Mandaeans adalah turunan kata dari menda yang dalam bahasa Mandaic berarti pengetahuan. Oleh karena itu, Sabian Mandaeans berarti mereka yang dibaptis dan mengetahui agama Tuhan.
Wa Allahu A'lam.

Sumber: Pusat Data Republika

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA