Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Masjid Hunto, Simbol Dakwah Islam Gorontalo (Habis)

Jumat 26 Jun 2015 17:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Hunto Gorontalo

Masjid Hunto Gorontalo

Foto: Gorontalofamily.org

REPUBLIKA.CO.ID, GORONTALO -- Ia lalu menggelar pesta tujuh hari tujuh malam untuk menyambut pernikahannya dengan Boki Autango. Rakyat Gorontalo mengucapkan sebuah sumpah dengan kalimat, "Bolo yingo-yingondiyolo monga boyi" yang berarti hari ini terakhir makan babi.

"Dalam kenduri itu Sultan masih memperbolehkan rakyatnya berbuat maksiat, makan babi, hingga minum arak. Tapi setelah hari itu Raja melarang semua perbuatan dosa dilakukan, jika tidak maka yang bersangkutan dianggap melanggar sumpah," urainya.

Pelanggaran sumpah adat tersebut dikenal dengan "bito". Sejak mengucapkan sumpah, rakyat diharapkan takut berbuat dosa karena akan ditimpa bencana seperti penyakit lepra dan dikucilkan oleh warga lainnya.

Pada abad berikutnya, Hunto menjadi pusat keagamaan yang turut melestarikan sejumlah budaya seperti modikili, turunani hingga bela diri langga. Modikili merupakan tradisi melantunkan dzikir dan shalawat dengan syair berbahasa Arab maupun Gorontalo untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan Turunani merupakan budaya yang digelar seminggu sebelum pesta pernikahan berlangsung, dengan menabuh rebana raksasa dan melantunkan syair berisi nasihat kepada masyarakat. Langga sendiri adalah pencak silat ala Gorontalo yang saat itu diikuti oleh para pendekar dari kampung dan bertanding di kompleks Masjid Hunto.

"Yang dilarang oleh Sultan adalah modayango, tradisi untuk mengobati orang sakit dengan memanggil setan dan memberikan sesajen," katanya.

Cagar Budaya

Sultan Amai yang bergelar adat "Tta Olongia Lopo Isilamu" (Raja yang Mengislamkan) lahir pada 1460 dan meninggal pada 1535. Makamnya berada di bagian depan dekat ruangan mimbar masjid, namun dibatasi oleh sebuah dinding.

Sekitar dua meter di sebelahnya, terdapat makam Syeh Syarif Abdul Azis yang memiliki gelar adat "Ta Dihu-dihu Uundhi Lo Ka'aba" (Yang Memegang Kunci Ka'bah). Di sekitar kedua makam terdapat tiga makam berukuran sama milik anggota keluarga raja.

Masjid tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, karena masih terdapat beberapa peninggalan bersejarah di dalamnya. Sebuah mimbar terbuat dari kayu dan beton masih berdiri kokoh di bagian depan ruang utama. Mimbar tersebut memiliki ornamen yang diduga berasal dari India, karena masuknya Islam ke Gorontalo juga merupakan pengaruh dari masuknya pedagang-pedagang Islam dari India, Pakistan dan Bangladesh.

Sebuah beduk kecil yang terbuat dari kulit randu masih tersimpan dan baru ditabuh oleh pengurus masjid bila ada petinggi atau pemimpin daerah yang datang ke masjid. Di samping ruang shalat terdapat sumur yang dibangun bersamaan dengan masjid. Sumur yang konon terbuat dari kapur dan putih telur Burung Maleo itu memiliki mata air yang tak pernah kering. Kala itu, sumur Hunto merupakan sumber air utama bagi masyarakat Gorontalo.

Kini masjid penuh kisah itu masih menjadi pusat dakwah bagi umat Muslim. Sehari-hari masjid tak hanya digunakan untuk shalat, tetapi ruangan lainnya berfungsi menjadi taman pengajian Al-Quran, sekolah taman kanak-kanak, pengajian kitab kuning, hingga buka puasa bersama pada bulan Ramadhan.

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES