Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Masjid Besar Cipaganti, dari Demak Hingga Kordoba (1)

Jumat 04 April 2014 12:13 WIB

Red: Chairul Akhmad

Masjid Besar Cipaganti, Bandung, Jawa Barat.

Masjid Besar Cipaganti, Bandung, Jawa Barat.

Foto: Parasphoto.wordpress.com

Oleh: Mohammad Akbar

Unsur lokalitas pada desain atap masjid dikolaborasikan sang arsitek dengan pengaruh impor lewat lengkungan sepatu kuda.

Perancang Masjid Cipaganti ini adalah seorang warga berkebangsaan Belanda bernama Charles Prosper Wolff Schoemaker. Ia adalah seorang arsitek yang pernah merancang sejumlah bangunan bergaya artdeco di Bandung.

Schoemaker adalah seorang guru besar di Technische Hoogeschool Bandoeng atau yang kini bernama Institut Teknologi Bandung. Tercatat pula ia pernah menjadi mentor bagi proklamator RI, Ir Sukarno. Keduanya pernah terlibat dalam renovasi pembangunan Hotel Preanger pada 1929.

Sementara itu, pada prasasti berbahasa Sunda yang terdapat di masjid, Masjid Raya Cipaganti, Bandung, ini dibangun pada 11 Syawal 1351 H atau 7 Januari 1933. Sedangkan, peresmiannya dilakukan pada 11 Syawal 1352 H atau 27 Januari 1934.

Peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan oleh Bupati Bandung Raden Temenggung Hassan Soemadipradja bersama dengan Patih Bandung Raden Rc Wirijadinata dan Penghulu Bandung Reden Hadji Abdoel Kadir.

Bandung dikenal dengan deretan bangunan bersejarah peninggalan Belanda. Salah satu yang hingga kini masih berdiri tegak adalah Masjid Besar Cipaganti. Nah, jika Anda tengah melancong ke kota berjulukan Paris van Java ini, tak salah kiranya untuk singgah sejenak.

Di tempat ini, Anda bisa melakukan dua hal secara berbarengan, melakoni ritual ibadah sekaligus menyelami penggalan sejarah yang pernah menghidupkan kota ini.

Dalam hal arsitektur, perancang berdarah Belanda Wolff Schoemaker yang mengonsep Masjid Cipaganti ini sepertinya mendapatkan pengaruh dari Masjid Demak. Selama ini, masjid tertua di Indonesia tersebut kerap dijadikan rujukan bagi masjid-masjid tradisional yang ada di Tanah Air.

Pengaruh tersebut terlihat pada bagian atap yang memiliki bentuk limas. Pada bagian tersebut, terlihat adanya model atap bertumpang tiga. Model atap limas ini, seperti dijelaskan arsitek asal Bandung, Taufiq Rahman, sebenarnya lebih mengedepankan aspek fungsional.

“Model atap semacam ini sangat pas untuk masjid-masjid yang berada di wilayah iklim tropis. Ketika hujan turun, tak akan ada air yang tergenang,” katanya.

Unsur lokalitas tersebut ternyata dikolaborasikan pula dengan pengaruh impor. Cerminannya dapat dilihat pada bentuk lengkungan sepatu kuda. Model lengkungan tersebut merupakan adopsi dari gaya arsitektur Moor yang pernah tumbuh di daratan Eropa atau lebih tepat di wilayah Spanyol.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA