Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Habib Ali Bin Hussein Al-Athos, Berilmu Tinggi dan Rendah Hati (1)

Sabtu 29 Mar 2014 17:19 WIB

Red: Chairul Akhmad

Habib Ali bin Hussein al-Athos.

Habib Ali bin Hussein al-Athos.

Foto: Blogspot.com

Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Ia lebih banyak menyalurkan ilmu-ilmunya secara pribadi.

Habib Ali bin Hussein al-Athos atau yang dikenal juga dengan sebutan Habib Ali Bungur merupakan seorang ulama yang sangat dikenal oleh masyarakat Betawi.

Meski ilmu agamanya tinggi, ia tetap tampil sederhana dan nyaman tinggal di tengah masyarakat yang kebanyakan menengah ke bawah.

Ia lahir di Huraidhah, Hadramaut, 1 Muharram 1309 H atau sekitar 1889 M. Jika dirunut garis keturunannya, ia punya hubungan keturunan langsung dengan Rasulullah. Sejak kecil, pada usianya yang baru menginjak enam tahun, ia sudah menuntut ilmu-ilmu agama di pesantren di Hadramaut.

Belasan tahun waktu hidupnya dihabiskan untuk berkutat dalam pendidikan ilmu-ilmu agama hingga akhirnya pada usia 23 tahun, ia pergi ke Makkah. Selain untuk menunaikan ibadah haji, ia juga belajar pada guru-guru agama di kota suci ini hingga enam tahun lamanya.

Pada 1917, ia memutuskan untuk kembali ke Hadramaut. Kemudian, mengajar di pesantren, menyalurkan kembali ilmu-ilmu yang telah didapatnya dari para ulama besar yang pernah menjadi gurunya. Dunia mengenalnya sebagai ahli dalam bidang ilmu fikih, falsafah, tasawuf, serta perbandingan mazhab. Ia juga menguasai banyak kitab kuning dari berbagai mazhab.

Ketika ia berusia 41 tahun, ia memutuskan untuk melebarkan sayap dakwahnya ke Jakarta. Ia mula-mula tinggal di Cikini, di tengah kampung yang dekat dengan Masjid Cikini.

Dalam waktu singkat, ia bisa menguasai bahasa Indonesia yang kemudian mempermudah dakwahnya. Kesederhanaan yang selalu ditunjukkan membuat ia cepat menarik perhatian masyarakat setempat, khususnya masyarakat Betawi.

Penampilannya terlihat khas. Ia gemar mengenakan jubah panjang berwarna putih, dilengkapi dengan serban dan selempang berwarna hijau. Ia selalu mengajarkan orang-orang di sekitarnya untuk bangkit dan semangat bekerja agar bisa meraih kehidupan ekonomi yang lebih baik.

Ia juga sangat menentang penjajahan, pemerintahan yang lalim, serta paham komunisme yang mengajarkan sikap ateis, tak percaya Tuhan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA