Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Masjid Harakatul Jannah, Adopsi Ragam Budaya Islam (2-habis)

Jumat 28 Feb 2014 11:12 WIB

Red: Chairul Akhmad

Masjid Harakatul Jannah.

Masjid Harakatul Jannah.

Foto: Republika/Aditya Pradana Putra

Oleh: Mohammad Akbar

Material impor

Sebelum kaki melangkah ke dalam masjid, kemegahan dan keindahan terlihat dari pintu masjid. Pada pintu masjid dihadirkan ukiran bermotif  bunga ala Jepara. Pada bagian pintu ini terhidang pula dekorasi berupa lengkung-lengkung khas Timur Tengah.

Kesan megah juga muncul pada gagang pintu berbentuk silinder. Berukuran sekitar satu meter, pegangan ini terbuat dari bahan tembaga dengan hiasan ukiran bercorak klasik. Setelah pintu terbuka, kaki akan langsung menapak lantai marmer.

Kabarnya, lantai ini didatangkan dari Italia. Tak hanya menutup lantai bagian dalam, marmer impor ini juga digunakan untuk malapisi sebagian dinding bagian luar serta tiang di dalam.

Di lantai dua, terbentang motif beranyam yang menghiasi lantai di bagian tengah. Motif itu terbentuk dari garis-garis hitam dengan bagian pusatnya membentuk bintang segi delapan. Menurut Mulyana, motif anyaman itu mengandung makna persaudaraan.

“Pesan yang dihadirkan di sini adalah ikatan ukhuwah Islamiah. Sedangkan, bentuk segi delapan menggambarkan lambang hukum Islam, amar makruf nahi munkar dan jihad fisabillah,” jelasnya. 

Dari lantai beranyam tadi, saat kepala mendongak ke atas, terlihat sebuah keindahan seni Islam. Keindahan itu memancar dari sisi bagian dalam kubah. Di sana terdapat kaligrafi dekoratif bertuliskan Asmaul Husna. Kaligrafi juga menghiasi empat sisi penopang kubah.

Sementara, pada bagian tengah kubah menjuntai lampu gantung berbahan kristal. Lampu sejenis juga terdapat pada lantai dasar. “Lampu ini diimpor juga dari luar negeri. Harganya Rp 1,2 miliar,” ungkap Mulyana.

Maju beberapa langkah, perhatian langsung tertuju pada mihrab. Bagian ini dihiasi oleh ukir-ukiran yang menutupi hampir semua permukaan mihrab yang terbuat dari kayu jati. Jika dicermati, ukir-ukiran yang terkesan rumit itu menampilkan corak bebungaan dan kaligrafi. 

Ukiran yang menghiasi mihrab ini rupanya mengadopsi motif di Masjid Sunan Kudus. Untuk menuntaskan ukiran di atas kayu jati berkualitas tersebut, kata Mulyana, perajin dari Jepara membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. “Bentuk ukirannya memang sangat detail dan rumit.”

Nah, bagi Anda yang ingin menikmati keindahan alam dengan latar Gunung Salak dan Gunung Gede, silakan menuju balkon di sisi utara bangunan yang mengaplikasikan gaya arsitektur Spanyol. Di balkon itu terdapat 12 tiang yang menopang kubah kecil.

Masjid semua golongan

Rupanya, butuh waktu tak sebentar untuk menuntaskan pembangunan masjid megah ini. Pemancangan tiang pertama dilakukan pada 17 September 2006. Namun, baru enam tahun kemudian, tepatnya 14 Desember 2012, masjid yang didirikan oleh mantan Walikota Jakarta Selatan Syahrul Effendi bersama sejumlah donatur ini tuntas dikerjakan.

Masjid ini dirancang secara duo arsitek, yakni Widyaningrum dan Haji Abdullah, arsitek berdarah Maroko yang telah menjadi warga negara Indonesia. Seperti dituturkan Mulyana, masjid dua lantai ini memiliki daya tampung hingga seribu jamaah.

Lantai dasar yang berukuran 380 meter persegi difungsikan sebagai ruang serbaguna. Lantai ini digunakan untuk kajian keislaman, resepsi pernikahan, dan seminar. Sedangkan, lantai atas yang berukuran 360 meter persegi digunakan sebagai tempat ibadah. “Ada tiga orang imam yang bertugas secara bergantian di masjid ini. Ketiganya adalah hafiz (penghafal) Alquran,” kata Mulyana.

Sebagai masjid yang mengadopsi ragam budaya Islam, menurut Mulyana, masjid ini diharapkan dapat menjadi pusat kebudayaan Islam di Indonesia. “Tentunya kita ingin membuat masjid ini sebagai pemersatu umat yang berdiri di atas semua golongan.”

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA