Monday, 4 Safar 1442 / 21 September 2020

Monday, 4 Safar 1442 / 21 September 2020

Alhamdulillah, Alquran yang Beredar di Masyarakat Dijamin Autentik

Senin 15 Jul 2013 16:05 WIB

Rep: Erik Purnama Putra/ Red: Citra Listya Rini

Alquran

Alquran

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kitab suci Alquran yang beredar di masyarakat sekarang dijamin keautentikannya. Meski sempat ada pertanyaan yang meragukan keaslian Alquran, namun hal itu tidak berdasar karena hanya sekadar asumsi tanpa disertai bukti.

Ustaz Ahmad Fathoni menegaskan tidak ada keraguan sedikit pun terkait Alquran yang isinya sama dengan apa yang diajarkan Rasulullah. "Alquran yang ada sekarang ini otentik, sesuai dengan yang ditulis oleh Zaid bin Tsabit selaku pencatat wahyu," kata Ahmad dalam Seminar Alquran di Republika Ramadhan Fair di Masjid Agung At-Tin, Jakarta Timur, Senin (15/7).

Menurut Ahmad, Alquran kali pertama dibukukan secara utuh pada era Khalifah Usman bin Affan. Rujukannya tentu dari sebagian ayat yang ditulis Zaid bin Tsabit. Meski mushaf asli yang dicetak pertama kali itu tidak ditemukan keberadaannya, kata dia, tetap tidak ada keraguan yang muncul.

Pasalnya, sejak awal, metode penulisan sudah menggunakan rumusan baku yang dirancang banyak ulama yang hafal seluruh bacaan Alquran. Karena sudah terbentuk sistem baku, dampaknya hingga kini tulisan ayat demi ayat tidak mengalami perubahan satu pun.

"Tulisan sudah diteliti dan dicermati dengan berbagai ilmu, seperti tafsir, fikih, tajwid, hingga kaidah penulisan ke dalam mushaf menjadi sempurna," ujar pengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Alquran ini.

Karena itu, ketika ada yang menyanggah bagaimana menjamin keaslian Alquran yang sekarang dibaca masyarakat, Ahmad memastikan terpeliharanya kitab suci umat Islam. Ulama cara penulisan itu sudah dirumuskan karena hafal Alquran

Penerbit Cipta Bagus Segara yang menerbitkan Alquran dengan keunggulan tajwid warna, terjemahan bahasa Inggris dan per kata, yang disertai kisah turunnya ayat memberi sebuah jaminan keaslian kitab suci yang dijualnya.

Penanggung jawab stand, Ghozali mengatakan, Ramadhan menjadi momen khusus untuk mendongkrak tingkat penjualan tafsir Alquran.

Ia menyatakan, datangnya bulan Ramadhan selalu diikuti dengan penjualan terjemahan Alquran yang meningkat. Pada awal dan pertengahan Ramadhan biasanya banyak orang membeli Alquran.

Alasannya karena biasanya pada bulan suci ini, kaum Muslim tergerak untuk mempelajari ayat suci lebih giat, juga lantaran penerbit hanya mengikuti basar hanya pada Ramadhan hingga mendorong penjualan mushaf.

"Tahun ini, penjualan penerbit lumayan, artinya ada peningkatan sedikit dibanding tahun lalu, meski target belum tercapai," kata Ghozali.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA