Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Manifestasi Shalat untuk Perubahan (Bagian-1)

Kamis 30 May 2013 01:45 WIB

Red: Damanhuri Zuhri

Seorang pria shalat di Masjid Istiqlal, Jakarta.   (ilustrasi)

Seorang pria shalat di Masjid Istiqlal, Jakarta. (ilustrasi)

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul

Kesalehan shalat mestinya termanifestasikan secara baik di kehidupan sehari-hari.

Seorang bijak, Luqman, seperti terabadikan di Surah Luqman ayat 17, pernah berwasiat kepada anak-anaknya. Nasihat itu adalah seruan untuk mendirikan shalat dan menjadikannya sebagai daya dorong mengajak ke arah kebajikan dan mencegah mungkar.

Ini pertanda kuat, kesalehan spiritual shalat semestinya tidak terpisahkan dari kesalehan sosial. Makna itu, kata Ustaz Abdul Rojak, akan tampak jelas dengan merujuk hadis Rasulullah saw: “Laa shalaata li man la tanhaahu shalatuhu 'anil fakhsya'i wal mungkar (Tak melakukan shalat orang-orang yang shalatnya tak menghindarkannya dari kekejian dan kemungkaran).”

Jadi, kata Ustaz Abdul Rojak kepada Republika, Rabu (22/5), alih-alih sebagai jaminan bahwa orang yang shalat pasti tercegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ayat tersebut mesti dipahami sebagai definisi shalat yang sesungguhnya.

Menurutnya, shalat yang benar akan termanifestasikan dalam kebaikan akhlak. Shalat merupakan anugerah Allah SWT untuk manusia sebagai penghalang dan pemisah dari keburukan.

Siapa yang ingin mengetahui sejauh mana manfaat shalatnya, hendaklah ia memperhatikan apakah shalatnya mampu menjadi penghalang dan pemisah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.

Shalat yang tak memiliki sifat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, tak memiliki nilai sebagai shalat yang benar, sehingga ia tertolak, sekalipun ia tetap shalat terus menerus selama 50 tahun.

Selama tak berbuah apa pun di kehidupan sehari-hari, maka sangat disayangkan. “Allah tidak menerima satu pun shalatnya,” tegas Rojak dengan mengutip sebuah hadis.  

Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Arqam, Jember, Jawa Timur, KH Izzat Fahd, menyatakan, khusyuk bermakna kesadaran penuh akan kerendahan kehambaan sebagai manusia di hadapan keagungan Tuhan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA