Monday, 15 Syawwal 1443 / 16 May 2022

KH AR Fachruddin, Sosok Teladan Pemimpin Umat (1)

Senin 23 Jul 2012 21:01 WIB

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Chairul Akhmad

KH AR Fachruddin.

KH AR Fachruddin.

Foto: blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, Di tangannya, Islam terasa sangat mudah dan toleran. Dalam berdakwah, ia memegang prinsip: Islam harus dibawakan dengan senyum.

Ia menyadari betul, senyum memiliki nilai ibadah. Kata Nabi SAW, ''Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.''

Memimpin dengan senyum, kesan itulah yang melekat pada diri ulama kharismatik ini. Agaknya, prinsip 'senyum' ini ikut membentuk wajah Muhammadiyah—ormas Islam yang pernah beberapa periode dipimpinnya—terasa teduh.

Tokoh dan ulama Muhammadiyah itu tak lain adalah KH Abdul Razaq Fachruddin atau lebih akrab disapa dengan panggilan Pak AR. Dilahirkan di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta, pada 14 Februari 1916.

Ia adalah anak ketujuh dari 11 bersaudara pasangan KH Fachruddin dengan Nyai Hajjah Fachruddin binti KH Idris. KH Fachruddin adalah seorang lurah naib (penghulu) dari Istana Pakualaman. Di kala usianya menginjak 16 tahun, ia menjadi yatim karena ayahnya meninggal dunia.

Masa kanak-kanak Abdul Razaq dihabiskan di Pakualaman. Setelah berusia tujuh tahun, bersama orang tuanya ia pindah ke Purwanggan. Ia menempuh pendidikan dasar di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Mulai dari Standard School Muhammadiyah Bausasran, Madrasah Muallimin Muhammadiyah, Sekolah Guru Darul Ulum Muhammadiyah Sewugalur, Kulonprogo, sampai Tabligh School Muhammadiyah.

Perjalanan kariernya dimulai dari bawah, yaitu sebagai guru dan mubaligh pada usia yang masih belia, 18 tahun. Dengan bekal pendidikan yang diperolehnya tersebut, tahun 1936 ia dikirim oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk menjadi guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Palembang.

Ia mendedikasikan diri sebagai guru di Palembang selama 10 tahun. Setelah itu, ia pulang ke kampung halamannya, Bleberan.

Tahun 1944, atas permintaan kepala sekolah Darul Ulum, ia mengajar di sana dan menjadi anggota pengurus Muhammadiyah Sewugalur. Ketika Indonesia merdeka, tahun 1945, AR ikut menjadi anggota Barisan Keamanan Rakyat (BKR) tingkat kecamatan atau pasukan Hizbullah Yon 39. Ia juga pernah menjadi pamong desa Kelurahan Galur, Brosot, Kulonprogo, selama setahun.

Pada awal kemerdekaan negeri ini, Pak AR diangkat menjadi pegawai Departemen Agama. Berbagai jabatan pernah ia emban, seperti kepala Kantor Urusan Agama di Adikarto, Wates, pada tahun 1974.

Tidak lama kemudian, ia pindah ke Kulonprogo, Sentalo, dalam jabatan yang sama. Selama sembilan tahun (1950-1959), ia menjadi pegawai jawatan agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berkantor di Kepatihan.

Tahun 1959, ia pindah ke Semarang dan menjabat sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi Jawa Tengah. Tahun 1964, ia kembali ke Yogyakarta dan menjabat sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi DIY hingga pensiun tahun 1972.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA