Tuesday, 4 Zulqaidah 1439 / 17 July 2018

Tuesday, 4 Zulqaidah 1439 / 17 July 2018

Inilah Cara Menasihati Anak Durhaka

Sabtu 23 June 2012 22:12 WIB

Red: Heri Ruslan

Berbicara (Ilustrasi)

Berbicara (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum wr wb

Ustaz, ada seorang ibu yang meminta saya menasihati anaknya yang dulunya begitu taat beribadah dan berbakti kepada orang tuanya, tetapi sekarang berubah total. Dia sering menyakiti hati ibunya sampai dia jarang pulang ke rumahnya dan lebih memilih tinggal di kos. Bagaimana caranya untuk menasihatinya, Ustaz?

Hamba Allah

Waalaikumussalam wr wb

“Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak.’” (QS al-An’am [6]: 151). Allahlah yang menetapkan hierarki dosa-dosa besar pada ayat di atas, Allah menempatkan durhaka pada kedua orang tua persis sesudah syirik kepada Allah SWT.

Karena orang yang berani mendurhakai orang tua, selanjutnya akan mendurhakai Allah. Betapa tidak, kalau kepada orang tua yang mengandungnya dengan kasih sayang dan melahirkannya dengan penuh pengorbanan, menjaga, mengasuhnya, serta mendidik dan membesarkannya, lalu tak pandai berterima kasih, besar kemungkinan anak ini tidak pandai berterima kasih atas nikmat-nikmat Allah.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua dalam menghadapi anak durhaka. Pertama, introspeksi diri dengan melihat ke kurangan dan kesalahan dalam mendidik dan menjadi teladan bagi anak-anak karena anak adalah peniru orang tua. Kedua, mendiagnosis sebab kedurhakaan jika sebelumnya anak itu taat beribadah, tiba-tiba berubah kemungkinan disebabkan oleh salah pergaulan.

Bisa juga karena dia terjerumus aliran sempalan yang mengatasnamakan Islam. Ketiga, melakukan pendekatan dan jangan menjauhinya agar anak dapat merasakan kebaikan orang tua yang sudah tertutup oleh emosi sesaatnya. Berikut beberapa nasihat dari Allah dan Rasul-Nya untuk anak yang durhaka. Anak harus diingatkan tentang siapa dirinya dan bagaimana proses kehadirannya di dunia ini.

Siapa pun dia saat ini, tak akan ada tanpa perantaan kasih sayang orang tuanya. “Dan, Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman [31]: 14).

Allah mewajibkan kepada setiap anak untuk tetap mengasihi dan menyayangi kedua orang ibu bapaknya, bahkan diperintahkan selalu mendoakan untuk kebaikan keduanya. Tidak ada alasan bagi anak sedikit pun untuk berlaku kasar kepada dua orang ibu bapaknya.

Allah berfirman, “Dan Tuhanmu telah m merintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pa da ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah kamu menga takan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan, rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (QS al-Isra` [17]: 23-24).

Berikut beberapa nasihat Rasulullah. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah.’ Beliau ber sabda, ‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Lalu, apalagi?’ Rasul bersabda, ‘Berbuat baik kepada orang tua.’ Lalu, aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa ya Rasulullah?’ Rasul bersabda, ‘Jihad di jalan Allah.’” (HR Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.’ Ada yang ber tanya, ‘Siapa, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.’” (HR Muslim).

“Rida Allah ada di dalam rida kedua orang tua dan murka Allah ada di dalam murka kedua orang tua.” (HR Tirmizi).

“Semua dosa itu akan Allah tunda hukumannya menurut kehendak-Nya sampai hari kiamat nanti, kecuali hukuman terhadap perbuatan zina dan durhaka kepada kedua orang tua atau memutuskan silaturahim, sesungguhnya Allah akan memperlihatkan kepada pelakunya di dunia sebelum datang kematian.” (HR Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad).

Wallahu a’lam bish shawab.

Ustaz Bachtiar Nasir

Sumber : konsultasi agama Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES