Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kesultanan Kilwa: Kerajaan Islam Terbesar di Afrika Timur (bag 1)

Kamis 23 Feb 2012 16:49 WIB

Rep: Devi Anggraini Oktavika/ Red: Heri Ruslan

Peninggalan Kesultanan Kilwa

Peninggalan Kesultanan Kilwa

Foto: blogspot

REPUBLIKA.CO.ID,  Kota apa yang paling masyhur di Afrika Timur pada abad ke-11 hingga 15 M?  Penjelajah Muslim legendaris, Ibnu Batuta dalam Ar-Rihla, mengungkapkan, kota paling berpengaruh dan terpopuler pada rentang abad itu adalah Kilwa. Ia adalah nama sebuah pulau yang berjarak sekitar tiga mil dari pantai Tanzania.

Saat Ibnu Batuta mengunjungi kota itu pada 1330 M,  di pulau itu berdiri sebuah Kerajaan Islam yang besar bernama  Kesultanan Kilwa.  Wilayah itu menjadi jalur transit perdagangan yang menghubungkan kawasan Selatan Afrika dengan Zimbabwe. Pada masa itu, besi dan emas menjadi komoditas unggulan yang dijual para saudagar.

Selain itu, Kilwa pun menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal pedagang yang menjual gading, budak untuk dipekerjakan di pabrik tekstil, perhiasan, porselen, dan rempah-rempah dari Asia. Sejak kedatangan Ibnu Batutta, pamor Kesultanan Kilwa terdengar hingga ke berbagai penjuru dunia.

Pada era keemasannya, wilayah Kesultanan Kilwa terbentang di sepanjang garis pantai Swahili yang mencakup 14 wilayah (sebagian kini merupakan negara), yaitu Lamu, Malindi, Mombasa, Tanga, Pangani, Bagamoyo, Dar es Salaam, Zanzibar, Pemba, Mafia Island, Comoros, Mayotte, Sofala, dan Quelimane.

Kesultanan Kilwa didirikan oleh seorang pangeran Persia dari Shiraz (sekarang merupakan salah satu kota padat penduduk di Iran), bernama  Ali Ibn al-Hassan el-Shirazy pada abad ke-10 M.  Ali adalah seorang pangeran yang disingkirkan enam saudaranya, setelah sang ayah wafat. Ia tak mendapat sedikitpun warisan dari harta pusaka ayahnya.

Ia lalu menyiapkan pelayaran keluar dari pulau Hormuz dan mulai melakukan perjalanan bersama beberapa pengikutnya ke arah Mogadishu, sebuah kota penyaluran barang komersil di pantai Afrika Timur. Sayangnya, Ali gagal bergaul dengan para elite Somali-Arab di kota tersebut. Ali kembali terusir.

Saat menyusuri Pantai Afrika, Ali  membeli pulau Kilwa dari Bantu, penduduk etnis Afrika. Menurut salah satu kronik (Strong, 1895),  Kilwa awalnya dimiliki oleh raja Bantu, Almuli. Pulau tersebut terhubung dengan daratan utama oleh sebuah jembatan kecil dari sebentuk tanah yang menonjol ke permukaan laut.

Raja itu setuju menjualnya dengan imbalan kain berwarna yang panjangnya bisa menutupi lingkar pulau itu. Saat raja berubah pikiran dan bermaksud mengambil kembali Pulau Kilwa, tanah yang menjadi jembatan penghubung telah digali oleh para pengikut Ali sehingga ia benar-benar berubah menjadi sebuah pulau.

Karena letaknya yang stategis, Kilwa akhirnya pusat perdagangan yang jauh lebih baik daripada Mogadishu. Keberadaannya mampu membetot perhatian banyak pedagang dan imigran, termasuk dari Persia dan Arab. Dan dalam beberapa tahun saja, mereka telah mampu membangun pemukiman satelit di Pulau Mafia yang berada di dekat Kilwa.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA