Kamis, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Kamis, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Hujjatul Islam: Al-Farabi, Pemikir Besar Muslim Abad Pertengahan (4-habis)

Senin 20 Feb 2012 23:40 WIB

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Chairul Akhmad

Al-Farabi (ilustrasi).

Al-Farabi (ilustrasi).

Foto: kaznu.kz

REPUBLIKA.CO.ID, Menurut Al-Farabi, mata hanyalah kemampuan potensial untuk melihat selama dalam kegelapan, tapi dia menjadi aktual ketika menerima sinar matahari. Bukan hanya obyek-obyek indrawi saja yang bisa dilihat, tapi juga cahaya dan matahari yang menjadi sumber cahaya itu sendiri.

Filsafat Kenegaraan

Terkait filsafat kenegaraan, Al-Farabi membagi negara ke dalam lima bentuk. Pertama, ada negara utama (Al-Madinah Al-Fadilah). Inilah negara yang penduduknya berada dalam kebahagiaan.

Bentuk negara ini dipimpin oleh para nabi dan dilanjutkan oleh para filsuf. Kedua, negara orang-orang bodoh (Al-Madinah Al-Jahilah). Inilah negara yang penduduknya tidak mengenal kebahagiaan.

Ketiga, negara orang-orang fasik. Inilah negara yang penduduknya mengenal kebahagiaan, tetapi tingkah laku mereka sama dengan penduduk negara orang-orang bodoh.

Keempat, negara yang berubah-ubah (Al-Madinah Al-Mutabaddilah). Penduduk negara ini awalnya mempunyai pikiran dan pendapat seperti yang dimiliki penduduk negara utama, tetapi mengalami kerusakan.

Kelima, negara sesat (Al-Madinah Ad-dallah). Negara sesat adalah negara yang pemimpinnya menganggap dirinya mendapat wahyu. Ia kemudian menipu orang banyak dengan ucapan dan perbuatannya.

Selain menguasai filsafat, Al-Farabi juga dikenal sebagai ilmuwan yang berjasa dan memberi kontribusi dalam berbagai bidang ilmu seperti, bahasa, logika, aritmatika, fisika, kimia, medis, astronomi dan musik. Tata bahasa Arab dipelajarinya dari seorang pakar tata bahasa dan linguistik kondang bernama Abu Bakr ibnu Saraj.

Dalam bidang logika, Al-Farabi adalah ahli logika Muslim pertama yang mengembangkan logika non-Aristotelian. Dia membagai logika ke dalam dua kelompok; idea dan bukti. Sosoknya juga dikenal sebagai ilmuwan yang banyak menggali pengetahuan tentang eksistensi alam dalam fisika.

Selain seorang ilmuwan, Al-Farabi juga dikenal luas sebagai seorang seniman. Dia mahir memainkan alat musik dan menciptakan beragam instrumen musik. Dan sistem nada Arab yang diciptakannya hingga kini masih tetap digunakan musik Arab. Dia juga berhasil menulis Kitab Al-Musiqa—sebuah buku yang mengupas tentang musik. Bagi Al-Farabi, musik juga menjadi sebuah alat terapi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Festival Panen Kopi Gayo

Rabu , 21 Nov 2018, 20:55 WIB