Monday, 4 Safar 1442 / 21 September 2020

Monday, 4 Safar 1442 / 21 September 2020

Hujjatul Islam: Ibnu Katsir, Guru Umat dan Suluh Penguasa (1)

Selasa 14 Feb 2012 21:23 WIB

Red: Chairul Akhmad

Kitab Tafsir Ibnu Katsir (ilustrasi).

Kitab Tafsir Ibnu Katsir (ilustrasi).

Foto: Wordpress.com

REPUBLIKA.CO.ID, Ibnu Katsir mendapat julukan Al-Hafizh, Al-Hujjah, dan Al-Muarrikh. Pantas ia menerima penghormatan itu. Pasalnya, ia menguasai banyak disiplin ilmu keislaman, seperti ilmu tafsir, hadis, fikih, dan sejarah.

Ulama sekelas Imam Adz-Dzahabi pun tak segan menyanjungnya. Ibnu Katsir adalah seorang Mufti (pemberi fatwa), Muhaddits (ahli hadis), ilmuwan, ahli fikih, ahli tafsir, dan punya karya monumenal yang banyak dan bermanfaat.

Nama lengkap Ibnu Katsir adalah Abu Al-Fida' Imaduddin Ismail bin Hafsh Syihabuddin Umar bin Katsir. Ia lahir di Majlah, salah satu kota di Bashrah, sebelah timur Kota Damaskus, pada 701 H. Ayahnya meninggal dunia sejak dia masih belia. Sehingga, pendidikan awal Ibnu Katsir diawasi oleh saudara-saudaranya. Ia merupakan anak termuda dalam keluarganya.

Ada yang berpendapat bahwa ayah Ibnu Katsir meninggal ketika ia berusia tiga tahun. Pendapat lain mengatakan ketika berusia empat tahun. Dan pendapat terakhir menyebutkan ketika ia berusia enam tahun. Pendapat yang terakhir disinyalir Ensiklopedi Islam sebagai yang paling sahih.

Meski sang ayah meninggalkannya sejak usia dini, namun pengaruhnya begitu kuat bercokol dalam diri Ibnu Katsir. Menurut sebuah riwayat, ayah Ibnu Katsir adalah seorang khatib. Sang ayah dikenal taat beragama, kuat menjunjung nilai-nilai keilmuan, dan pendidik yang bersemangat. Ibnu Katsir mewarisi kebesaran ayahnya, bahkan kemudian ia menjadi lebih besar.

Sejatinya, kebesaran Ibnu Katsir tampak sejak masih berusia kanak-kanak. Pendidikan awalnya diasuh oleh saudaranya, Syekh Abdul Wahab. Pada periode ini, Ibnu Katsir belajar ilmu-ilmu agama. Ia dengan cepat menguasai ilmu-ilmu yang dipelajarinya. Sehingga pada 706 H, ketika berusia lima tahun, saudaranya mengirimkan Ibnu Katsir ke Kota Damaskus untuk memperdalam ilmu agama.

Di kota itu ia belajar ilmu fikih Syafi'i kepada syekh besar Damaskus, Burhanuddin Ibrahim bin Abdurrahman Al-Fazariy (W 729). Menginjak usia 11 tahun, ia sudah selesai menghafalkan 30 juz Alquran. Kemudian, dari Kota Damaskus itulah, ia memulai pengembaraannya untuk memperkaya ilmu agama.

Tak dapat dinafikan pula bahwa kebesaran Ibnu Katsir juga ditunjang oleh kebesaran guru-gurunya. Selain syekh besar Damaskus, sederet nama ulama agung tercatat sebagai pembimbingnya. Di bidang usul fikih, ia diasuh oleh Syekh Kamaluddin bin Qodi Syuhbah, di bidang hadis ia berguru kepada Syekh Jamaluddin Yusuf bin Zaki Al-Mazi dan Syekh Nazmuddin bin Al-Asqalani, dan di bidang sejarah belajar kepada Syekh Syamsuddin Adz-Dzahabi.


sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA