Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Guru Indonesia di Jeddah Angkat Suara Soal Isu Jilbab

Selasa 04 Feb 2020 05:45 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Andi Nur Aminah

Perempuan berhijab

Perempuan berhijab

Foto: The Daily Mail
Isu jilbab disebutnya seperti air laut, kadang pasangnya naik dan kadang surut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendiri dan Kepala Sekolah Islam Indonesia di Jeddah, Elly Warti Maliki turut angkat bicara tentang isu jilbab yang kerap diperdebatkan oleh masyarakat Indonesia. Menurut dia, isu jilbab ini memang seperti air laut, kadang pasangnya naik dan kadang surut.

Lulusan Universitas Al Azhar Indonesia ini menjelaskan, dari yang mewajibkan cadar sampai yang membolehkan rok pendek sekarang semua mengaku berpedoman pada Alquran. Padahal, menurut dia, Alquran tidak sama dengan buku karangan manusia.

"Alquran tidak sama dengan buku-buku karangan manusia. Alquran adalah kitab suci yang bersumber dari wahyu Ilahi. Untuk bisa memahami pesan yang terkandung di dalamnya, membacanya harus dilandasi keimanan," ujar Elly kepada Republika.co.id, Senin (3/2).

Baca Juga

Selain itu, menurut dia, Alquran juga harus dibaca dalam kerangka karakteristik Islam itu sendiri, yang mana di antara karakteristik ajaran Islam adalah muruunah atau fleksibel dan wasathiyah atau moderat. Karena itu, menurut dia, fleksibelitas ajaran Islam memungkinkan jilbab dipakai dalam berbagai bentuk.

"Artinya jangan sampai pemakaian jilbab membuat orang sulit beraktifitas. Jika yang akan diikat terlalu kecil, maka karet tersebut akan lepas. Artinya jilbab minimalis tidak sesuai standar tuntunan agama," ucap guru asal Padang, Sumatra Barat ini.

Lebih lanjut, Elly menjelaskan, sulit untuk mengatakan bahwa memakai jilbab itu tidak wajib. Namun, menurut dia, perempuan lanjut usia yang sudah tidak punya hasrat seksual lagi, tidak berdosa jika tidak memakai jilbab. Dia mengutip surat An-Nur ayat 60 yang artinya:

"Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Dengan demikian, lanjut dia, perempuan yang masih mempunyai hasrat seksual akan berdosa jika tidak memakai jilbab. "Artinya memakai jilbab itu hukumnya wajib," jelas Elly.

Sesuai dengan karakteristik ajaran Islam yang wasathiyah, tambah dia, jilbab juga harus moderat. Artinya, menurut dia, jilbab wasathy bukan yang panjangnya sampai di bawah lutut, sehingga pemakainya bisa menyembunyikan barang curian dari toko. Jilbab wasathy juga bukan pakaian yang memperlihatkan bagian-bagian aurat agar pemakainya diterima oleh kalangan tertentu.

"Jilbab wasathy adalah jilbab yang dapat menyatukan timur dan barat dalam kedamaian. Lebih dari itu jilbab wasathy seharusnya bisa menyatukan antara hati, fikiran dan prilaku pemakainya," kata Elly.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA