Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Kiai Maruf: Ulama Harus Siap, Tetapi Jangan Memaksa

Ahad 12 May 2019 02:00 WIB

Red: Ratna Puspita

Calon Wakil Presiden, Ma'ruf Amin

Calon Wakil Presiden, Ma'ruf Amin

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Kiai Ma'ruf mengatakan ulama harus siap berperan di mana saja untuk membangun bangsa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Calon Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengatakan ulama siap ditempatkan di mana saja dalam membangun bangsa dan negara, baik di hilir maupun di hulu, serta di kultural maupun struktural. Menurut Ma'ruf Amin, bagi NU kadernya berada dalam pemerintahan atau tidak, berada di struktural atau kultural, sama saja tanggung jawabnya.

"Bagi NU tidak menolak jika diajak berada di pemerintahan, tapi juga tidak memaksa jika tidak ikut serta," kata KH Ma'ruf Amin dalam sambutannya menjelang buka puasa bersama Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) di Condet, Jakarta, Sabtu (11/5).

Baca Juga

Kiai Ma'ruf mengatakan ulama yang berperan merupakan bagian dari komitmen kebangsaan ulama di NU (Nahdlatul Ulama). "Kalau masyarakat memberikan kepercayaan kepada ulama untuk memimpin negeri ini, adalah suatu keniscayaan," kata dia.

Mantan Rais Am PBNU ini kemudian menceritakan, beberapa tokoh NU seperti, pendiri NU KH Hasyim Asy'ari yang berkontribusi pada perjuangan mempertahankan NKRI, serta KH Abdurrahman Wahid yang menjadi presiden RI keempat. "Insya Allah, saya juga akan dilantik menjadi wapres, kalau tidak ada perubahan," katanya.

Kiai Ma'ruf juga mengingatkan, ulama saat ini siap ditempatkan dihilir maupun di hulu dalam membangun bangsa. "Ulama yang terjun ke dunia politik, memiliki komitmen untuk membangun bangsa dan negara. Ulama memiliki peran dan tanggung jawab besar terhadap bangsa dan negara," katanya.

Kiai Ma'ruf juga menyayangkan jika ada yang ingin mencapai pemerintahan dengan cara memaksa. "Kalau NU siap berada di pemerinatahan jika mendapat amanah dari rakyat dan tidak menimbulkan kegaduhan," katanya.

Menurut dia, NU khittohnya adalah membangun umat dengan kemaslahatan, karena itu tidak akan berupaya merebut kekuasaan.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA