Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

NA Imbau Orang Tua Dampingi Anak Bermedia Sosial

Senin 18 Mar 2019 08:49 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Hasanul Rizqa

Anggota masyarakat berduka di sebuah memorial bunga di dekat Masjid Al Noor di Deans Rd di Christchurch, Selandia Baru, 16 Maret 2019.

Anggota masyarakat berduka di sebuah memorial bunga di dekat Masjid Al Noor di Deans Rd di Christchurch, Selandia Baru, 16 Maret 2019.

Foto: EPA-EFE/Mick Tsikas
Nasyiatul 'Aisyiyah (NA) menilai terorisme di Selandia Baru juga terkait media sosial

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul 'Aisyiyah mengutuk keras aksi terorisme yang menyasar dua masjid di Christchurch, Selandia Baru. Hingga berita ini ditulis, sebanyak 50 orang menjadi korban jiwa akibat perbuatan biadab yang terjadi pada Jumat (15/3) lalu itu.

Ketua Umum PP Nasyiatul 'Aisyiyah Diyah Puspitarini juga mengimbau orang tua untuk memetik hikmah dari kasus terorisme itu. Sebab, seorang pelakunya diketahui melakukan live streaming via internet ketika sedang melakukan aksi kejinya.

Baca Juga

Bahkan sebelum memulai perbuatan biadabnya, pelaku juga telah mengunggah manifesto yang sarat kebencian akan Islam (Islamofobia). Bagi Diyah, hal itu telah menjadi keprihatinan bersama, mengingat modus pembunuhan massal tersebut memanfaatkan kemudahan bermedia sosial.

"Perlu kiranya orang tua memberikan pengawasan atau pendampingan kepada anak dalam penggunaan media sosial," ujar Diyah Puspitarini, Ahad (17/3).

Selain itu, pihaknya juga meminta pemerintah Selandia Baru untuk segera menindak tegas pelaku terorisme tersebut dengan hukuman yang setimpal. Seperti diketahui, di antara para korban jiwa adalah perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah.

PP Nasyiatul 'Aisyiyah (NA) juga menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya kepada para keluarga korban dan bangsa Selandia Baru pada umumnya. Kejadian itu menimbulkan duka tersendiri bagi kaum Muslimun, apalagi diketahui para korban saat itu melakukan ibadah shalat Jumat.

"Mengutuk keras pelaku apapun alasannya, membunuh adalah sebuah pelanggaran hak asasi manusia, apalagi aksi dilakukan di tempat ibadah," ujar dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA