Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

PBNU: Tak Ada Konflik Antara PBNU dengan Habib Zein

Kamis 07 Mar 2019 14:55 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Andi Nur Aminah

Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zein bin Umar Smith saat silaturrahmi ke kantor Republika, Jumat (17/2).

Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zein bin Umar Smith saat silaturrahmi ke kantor Republika, Jumat (17/2).

Foto: Republika/ Yasin Habibi
Meski mundur, Habib Zein tetap menjalin silaturahim dengan pengurus PBNU.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wasekjen PBNU Masduki Baidlowi mengatakan keputusan mundurnya Habib Zein Umar bin Smith dari jabatan salah satu Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bukanlah karena adanya konflik.

"Saya belum membaca langsung surat pengunduran diri Habib Smith, tapi dari informasi yang saya terima, saya rasa ini hanya masalah kurangnya komunikasi," jelas dia kepada Republika.co.id, Kamis (7/3).

Baca Juga

Apalagi memang diketahui Habib memiliki kesibukan yang padat sehingga dia memilih mundur dari salah satu bidang kepengurusan PBNU. Diakui Masduki memang pengurus yang ada di dalam Mustasyar tidak terlalu sering berinteraksi dan berkomunikasi dengan pengurus harian PBNU.

Mereka biasanya hadir jika ada undangan-undangan tertentu saja dan kegiatan besar seperti harlah atau Munas. Menanggapi alasan mundurnya Habib Zein dari jabatannya di PBNU, Masduki mengatakan seharusnya Habib Zein tabayyun atau komunikasi terlebih dahulu kepada ulama-ulama yang dimaksud.

"Salah paham ini sepertinya terkait pada kebijakan Bahtsaul Matsail yang terakhir kali soal penggunaan istilah kafir yang dihapus dari praktik kebangsaan,"jelas dia.

Seharusnya semua orang dapat terlebih dahulu bebricara kepada ulama-ulama yang telah mengambil kebijakan tersebut. Karena menurut Masduki kebijkan ini sudah tepat.

Namun demikian, Masduki mendapat kabar, meski mundur, Habib Zein tetap menjalin silaturahim dengan pengurus PBNU khususnya ulama-ulama yang ada. Dia hanya mundur dan tidak lagi ingin menjadi pengurus.

PBNU sendiri memiliki empat kepengurusan. Pertama, Mustasyar ini biasanya adalah jajaran dewan penasehat syuriah. Biasanya, posisi ini terdiri atas para ulama sepuh NU yang tidak hanya dituakan dalam konteks usia, tetapi juga kedalaman ilmu pengetahuan, agama, dan spiritualnya.

Kedua, Pengurus Harian Syuriyah, ini terdapat Rais Aam. Ketiga, A'wan yang merupakan dewan pakar dan yang terakhir Pengurus Harian Tanfidziyah. Biasanya yang paling sering beraktifitas dan menjalin komunikasi rutin adalah pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah. Sedangkan pengurus Mustasyar dan A'wan terbilang jarang dan hanya di waktu-waktu tertentu saja.

Masduki berharap kegaduhan yang terjadi belakangan tidaklah di tanggapi dengan emosional. Apalagi kegaduhan ini dibuat oleh pihak luar yang mengkaitkan dengan masalah politik dan akidah.

PBNU tegas masalah keputusan Bahtsaul Matsail, bahwa kata kafir tidak terkait dengan akidah. Tidak ada satupun ulama PBNU yang akan menghapus kata kafir dari Alquran dan menggantinya dengan non-Muslim. Masduki mengajak semua pihak untuk duduk bersama agar mengedepankan tabayyun dan tidak terhasut berita bohong.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA