Kamis, 25 Safar 1441 / 24 Oktober 2019

Kamis, 25 Safar 1441 / 24 Oktober 2019

Hujan Meteor, Puasa Putih, dan Shalat Gerhana Bulan Total

Selasa 24 Jul 2018 17:51 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Andi Nur Aminah

Warga memotret fase gerhana bulan total (ilustrasi)

Warga memotret fase gerhana bulan total (ilustrasi)

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Gerhana bulan total diperkirakan akan terjadi selama satu jam 43 menit.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Gerhana bulan total diperkirakan terjadi pada Sabtu (28/7) dini hari mendatang. Selain dapat menikmati pemandangan hujan meteor, bagi umat Islam, terdapat amalan-amalan yang dianjurkan saat terjadinya fenomena itu.

Dosen Syariah Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII), Sofwan Jannah, memperkirakan, gerhana bulan total akan terjadi selama satu jam 43 menit. Karenanya, banyak fenomena alam yang dapat disaksikan.

Walau pada gerhana bulan total penampakan hujan meteor Delta Akuarid sedikit redup, beberapa meteor terang diprediksi masih dapat terlihat. Bahkan, ia memperkirakan belasan meteor akan melintas tiap jam. "Intensitas 15 sampai 20 meteor per jam jika diamati dari lokasi yang relatif gelap," kata Sofwan, Selasa (24/7).

Selain itu, Sofwan menuturkan, ketika gerhana bulan terjadi akan ada pula fenomena oposisi planet Mars yang posisinya akan satu garis dengan itu. Untuk itu, tidak perlu heran jika Mars akan terlihat lebih besar.

Ia mengingatkan, ada anjuran bagi umat Islam dalam menyambut terjadinya fenomena gerhana bulan total terjadi. Anjuran itu tidak lain merupakan puasa biyd atau yang banyak dikenal dengan istilah puasa putih.

Puasa putih dapat dilaksanakan sejak Kamis (26/7) lalu Jumat (27/7) dan tentu saat terjadinya gerhana bulan, yaitu Sabtu (28/7) mendatang. Bahkan, ia mengatakan, puasa ini selalu dilakukan Nabi Muhammad SAW. "Gerhana cincin pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW pada 27 Januari 632 Hijriyah, yang melewati daerah Yaman dan gerhana matahari sebagian terjadi di Madinah, jadi dianjurkan bagi umat Islam melaksankan shalat," ujar Sofwan.

Shalat gerhana sudah bisa dilakukan sejak awal terjadi gerhana umbra sampai gerhana berakhir. Untuk pelaksanaan saat terjadinya gerhana bulan total, dapat dilaksanakan saat bulan sudah total tertutup bayangan bumi.

Sofwan menerangkan, sesuai tuntunan Rasulullah SAW, sewaktu akan dimulai hendaknya menyerukan panggilan untuk shalat, yaitu as-shalatul jaamiah. Shalat memang diutamakan dilakukan secara berjamaah. "Shalat gerhana dikerjakan dengan dua rakaat, empat kali ruku, dan empat kali sujud," kata Sofwan.

Selain itu, ia menambahkan, terjadinya gerhana bulan total tentu dapat dimanfaatkan umat Islam untuk kalibrasi arah kiblat. Sebab, dalam waktu-waktu tertentu matahari akan tepat berada di atas Ka'bah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA