Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Jangan Menghardik Anak Yatim

Sabtu 07 Sep 2019 14:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Ratusan anak yatim mengikuti buka puasa bersama. (ilustrasi)

Ratusan anak yatim mengikuti buka puasa bersama. (ilustrasi)

Foto: Republika/Yasin Habibi
anak yatim ini adalah sosok yang lemah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pakar ilmu tafsir dan hukum Islam Prof Dr KH Ahsin Sakho Muhammad menyebut masalah anak yatim ini disebut dalam Alquran sudah menjadi perhatian sejak masa awal-awal periode Mak kah. Yatim merupakan definisi bagi anak yang ditinggalkan oleh bapaknya saat usia kecil hingga akhil baligh.

Baca Juga

"Nabi berada di sisi orang-orang yang menanggung anak yatim," ujar Kiai Ahsin Sakho belum lama ini,

Hal itu mengacu pada ungkapan Sahl bin Saad RA yang menyebut Rasulullah SAW pernah bersabda, "Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedu dukannya) di surga seperti ini, kemudian Beliau SAW mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah Nabi, serta agak merenggangkan keduanya."

Dengan adanya anak yatim, Kiai Ahsin Sakho menyebut Allah ingin mengetahui siapa di antara keluarganya yang akan menanggung mereka. Sejauh mana masyarakat Muslim peduli pada mereka.

Anak yatim tidak hanya membutuhkan bantuan untuk masalah fisik, seperti pakaian, makanan, minuman, dan tempat tinggal. Mereka juga membutuhkan curahan kasih sayang. Dia meminta umat Islam untuk memperlakukan anak yatim sebagaimana anak sendiri, tidak dibedakan. Jangan sampai anak yatim ini merasa disakiti.

Dalam Alquran surah al- Ma'un ayat 1-3, Allah bersabda, "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin." Menjadi sebuah dosa besar bagi umat Islam yang memakan harta anak yatim, sementara anak yatim ini adalah sosok yang lemah.

Ia pun menyebut Nabi SAW merupakan contoh nyata dari kehidupan seorang anak yatim. Di usia belia, Nabi telah kehilangan ayah tercintanya dan hi dup berpindah-pindah dari satu sau dara ke saudara yang lain. Nabi merasakan bagaimana perasaan getir dan terombangambing se plama hidup. Karena pengalamannya, Nabi menjadi contoh bagi umat Islam.

Dalam HR Thabrani, Ra su lullah SAW pernah bersabda, "Bila engkau ingin agar hati menjadi lembut dan damai dan engkau mencapai keinginanmu, sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah dia makanan seperti yang engkau makan. Bila itu engkau lakukan, hatimu akan tenang serta lembut dan keinginanmu akan tercapai." 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA