Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

7 Amal Jariyah yang Mengalir Pahalanya: Merawat Lingkungan

Senin 29 Jul 2019 19:15 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

Ahmad Satori Ismail, Ketua Umum IKADI

Ahmad Satori Ismail, Ketua Umum IKADI

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Merawat lingkungan termasuk ajaran Islam yang utama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Islam menaruh perhatian begitu besar pada lingkungan hidup. Ajaran Rasulullah SAW banyak menekankan pentingnya menjaga lingkungan. 

Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Prof Ahmad Satori Ismail, mengatakan secara spesifik Rasulullah SAW memerintahkan seluruh umat Muslim untuk menanam sebuah tanaman. 

Baca Juga

"Rasulullah pernah bersabda, bukan hanya untuk para sahabat Nabi, melainkan juga umat seluruhnya, bahwa 'Seandainya tanda-tanda kiamat besar itu sudah ada, matahari terbit dari barat, kemudian di tangan kamu ada sebuah biji kurma, maka kalau mampu menanamnya, harus ditanam'," ujarnya kepada Republika.co.id, Senin (29/7).

Satori menjelaskan, hadis tersebut menyampaikan bahwa Islam mengajarkan kepada umat Muslim untuk turut-serta menjaga lingkungan sehingga banyak tanah yang ditanami tanaman. 

Dia melanjutkan, penanaman tersebut tentu punya dampak positif terhadap lingkungan. "Misalnya supaya menetralkan oksigen an sebagainya. Islam juga mengajarkan untuk membersihkan selokan atau sungai, kaitannya dengan upaya menghindari banjir, artinya harus bersih seluruhnya. Sehingga ketika ada hujan, jalurnya bersih, tidak terhambat, jadi tinggi sekali masalah ini dalam Islam," ungkap dia.  

Satori kembali memaparkan, hadis tersebut juga menganjurkan seluruh umat Muslim, bahwa meski berada dalam kondisi lingkungan yang memprihatinkan, tetap dianjurkan untuk melakukan amal saleh dengan menanam tanaman.

"Kurma itu berbuahnya setidaknya lima tahunan, padahal kiamat datang, (tetapi) kita dianjurkan untuk menanamnya, Mengapa? Karena ini untuk beramal salehnya. Itu," tuturnya.

Satori juga menyampaikan cerita seorang kakek yang menanam pohon. Seseorang bertanya kepadanya mengapa menanam pohon padahal usianya sudah tua dan tidak ada manfaat untuk dirinya. Namun kakek tersebut menjawab pohon yang ditanamnya itu untuk generasi berikutnya.

Kakek itu juga menjawab, bahwa orang-orang terdahulu menanam pohon, dan hasilnya dinikmati orang-orang generasi sekarang. "Jadi kita sekarang juga menanam pohon untuk orang-orang setelah kita," papar Satori.

Satori juga menjelaskan, terdapat tujuh amalan yang jika dilakukan maka pahalanya tidak terputus. Ketujuh itu di antaranya, ilmu yang bermanfaat, anak yang saleh, sedekah jariyah, membuat sungai mengalir dengan lancar, membangun jalan, mewariskan mushaf Alquran, dan terakhir adalah menanam pohon.

“Karena terus-menerus mengeluarkan oksigen kan, membantu orang, terkadang ada orang berteduh di bawahnya," kata dia seraya menambahkan selama pohon itu masih ada, maka pahalanya terus mengalir. “Jadi tujuh amalan ini tidak terhapus amalannya,” tutur dia. 

Selain itu, seseorang yang membuat aliran sungai menjadi lancar, atau membersihkan selokan seperti kerja bakti yang sering dilakukan masyarakat, juga demikian. Orang yang melakukan perbuatan ini akan diganjar pahala yang tak henti-hentinya. 

"Karena perbuatan ini bisa membuat lingkungan terbebas dari banjir, dan berbagai macam hal. Jadi lingkungan dalam Islam itu sangat diperhatikan," kata dia.

Satori berharap masyarakat pada waktu menjelang Hari Idul Adha tahun ini mementingkan kelestarian lingkungan dengan berbagai upaya. Misalnya dengan melakukan upaya mendaur ulang barang-barang berbahan plastik jika memang tidak ada pilihan untuk membungkus daging dengan bahan plastik. "Seandainya (plastik ini) dikumpulkan dan bisa didaur ulang, sehingga tidak membahayakan lingkungan, maka umat ini wajib mengarah ke sana," ungkap dia.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA