Selasa, 12 Rajab 1440 / 19 Maret 2019

Selasa, 12 Rajab 1440 / 19 Maret 2019

Lika-Liku Nadia, Hafizah Alquran di Usianya yang Belia

Jumat 01 Feb 2019 20:53 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Nashih Nashrullah

Nadia Hanabila Makarima

Nadia Hanabila Makarima

Foto: Republika/ Muhammad Fauzi Ridwan
Menurut Nadia, Allah SWT memudahkan Alquran untuk dibaca dan dihafal untuk siapapun.

REPUBLIKA.CO.ID, BOJONGSOANG— Menjadi seorang penghafal Alquran (hafizah), adalah cita-cita Nadia Hanabila Makarima sejak kecil. Cita-cita itu muncul setelah kedua orangtuanya sering memberikan pelajaran tentang keutamaan Alquran. Lalu, ia pun sering dan banyak membaca buku-buku tentang keutamaan Alquran.  

Keinginan menjadi hafiz Alquran terus muncul ketika dirinya duduk di bangku sekolah dasar (SD) di SD IT Ibnu Sina dan lulus pada 2014 lalu. Sejak saat itu, kedua orang tuanya mengajak remaja 16 tahun tersebut untuk lebih tahu pesantren-pesantren yang khusus fokus dibidang tahfiz Alquran.  

Hingga akhirnya, ia memutuskan belajar di Baitul Quran yang berada di Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Saat memasuki dunia tahfiz, anak kedua dari empat bersaudara ini mengaku baru memulai belajar di bidang tahfiz. 

"Saya memulai tahfiz Alquran dari nol disana (Baitul Quran)," ujarnya kepada Republika.co.id saat ditemui di MA Inspiratif Al-Ilham di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jumat (1/2). Sejak belajar di Baitul Quran, ia mengaku fokus belajar agar bisa hafiz Alquran.  

Ia menuturkan, tiga kali dalam sehari ia terus belajar tahfiz Alquran. Pagi, sore dan malam, dirinya mengaku diwajibkan menyerahkan setoran hafalan Alquran kepada ustaz. Hal itu yang membuat dirinya terus menempa diri agar bisa hafiz Alquran.  

"Pagi saya setor hafalan, sore murajaah, mengulang setoran hafalan kembali dan malam mempersiapkan hafalan untuk disetorkan pagi hari," katanya. Ia mengaku,  selama proses menghafal kadangkala mengalami kesulitan. 

photo

menghafal Alquran

Tidak hanya itu, Nadia menuturkan jika dirinya seringkali merasakan kebosanan dan malas menghafal Alquran. Namun, kendala-kendala tersebut sirna ketika dirinya termotivasi melihat siswa lainnya yang masih duduk kelas 1 SD namun sudah hafiz 30 juz.

Selama berproses di Baitul Quran periode 2014-2016, ia mengungkapkan berhasil hafiz Alquran 11 juz. "Alhamdulillah lulus disana hafal 11 juz," katanya. Di sela-sela libur sekolah menuju masuk ke tingkat SMA, ia mengikuti karantina tahfiz selama dua pekan di Bandung.

"Di karantina tahfiz Alquran di Bandung dapat dua juz," ujar remaja yang tinggal di Cicaheum, Kota Bandung itu. 

Setelah menyelesaikan karantina tahfiz Alquran di Bandung dan masa libur sudah selesai, Nadia memutuskan melanjutkan sekolah ke MA Inspiratif Al-Ilham di Kabupaten Bandung.  

Ia mengungkapkan ketika mulai belajar pertama kali di kelas 10, ia sudah hafal 13 juz. Kemudian, selama belajar di lembaga pendidikan Islam tersebut, dirinya mengaku menyelesaikan hafal 30 juz saat berada di bangku kelas 11. 

Menurutnya, hafalan yang harus disetorkan kepada ustaz dilakukan secara bertahapan. Ia mengungkapkan jika selama di MA Inspiratif Al-Ilham mampu menghafal delapan juz Alquran. Sementara sembilan juz hafalan lainnya diperolehnya saat mengikuti karantina tahfiz Alquran di Kuningan. 

"Alhamdulillah, Juli 2018 kemarin saya khatam hafal Alquran 30 juz. Setoran hafalan di MA disetorkan ke ustazah," ujarnya yang tinggal di asrama sekolah. Ia mengaku bersyukur bisa menjadi hafizah 30 juz.

photo

Menghafal Alquran

Ia mengungkapkan, selama menghafal Alquran selalu mendapatkan kemudahan dan kelancaran. 

Nadia meyakini bahwa janji Allah SWT yang tertuang di surah al-Qamar menyebutkan Allah telah mempermudah (yang belajar) Alquran benar adanya.

"Asal niatnya ikhlas, jadi gampang gitu. Dulu menghafal satu halaman Alquran, hafalannya bisa empat jam. Sekarang satu halaman bisa 7 menit," ungkapnya. 

Oleh karena itu ia berbagi, bagi yang hendak menghafal Alquran maka harus memperbarui niat terlebih dahulu. 

Ia mengungkapkan, usia dan fisik seseorang pun tidak membatasi jika ingin hafiz Alquran. Sebab saat dirinya mengikuti karantina tahfiz Alquran banyak yang sudah berumur dan difabel bisa hafiz Alquran.

"Waktu karantina, ada kakek usia 70 tahun bisa 10 juz dalam dua pekan. Usia nggak jadi penghambat menghafal Alquran. Banyak orang difabel baca Alquran," ungkapnya.

Ia berbagi pengalaman bagi yang hendak menghafal Alquran agar merelakan waktu belajar Alquran. “Sebab Alquran tidak akan meluangkan waktunya untuk kita. Namun kita yang harus meluangkan waktu,” kata dia. 

Hadiah umrah 

Keberhasilan Nadia Hanabila Makarima menghafal 30 juz Alquran diapresiasi Wakil Bupati Bandung, Gun Gun Gunawan. Orang nomor dua di Kabupaten Bandung itu memberikan penghargaan berupa umrah gratis dan surat rekomendasi kuliah untuknya.

"Alhamdulillah saya dapat umrah dan surat rekomendasi kuliah, pengen masuk ITB jurusan teknik industri," katanya. Dirinya mengaku fokus belajar untuk menjadi hafiz Alquran. 

Kepala Sekolah MA Inspiratif Al-Ilham, Deviani, mengungkapkan sesudah ujian nasional, pihak pesantren akan melakukan ujian sertifikasi bagi santri yang sudah mempunyai hafalan Alquran. 

"Sesudah UN, seluruh siswa akan ujian sertifikasi hafalan yang dimilikinya untuk kemudian dikeluarkan sertifikat hafalan," ungkapnya.

Dirinya menuturkan, jika Nadia merupakan sosok santri yang salihah, cerdas, dan pintar. Namun, remaja berusia 16 tahun tersebut dikenal teman-temannya dan ustaz-ustazah sebagai sosok yang pemalu.

 

   

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA