Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Cerita Mantan Preman dan Anak Punk yang Memilih Hijrah

Rabu 02 Jan 2019 08:39 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Elba Damhuri

Dakwah Paralel bersama Ust Poppy Alghifari, Ust Akbar Nazari,  Ust Aditya Abdurrahman dan Puput Melati di Tabligh Akbar, Festival Republik  2018, Masjid Al Furqan Yogyakarta, Senin (31/12).

Dakwah Paralel bersama Ust Poppy Alghifari, Ust Akbar Nazari, Ust Aditya Abdurrahman dan Puput Melati di Tabligh Akbar, Festival Republik 2018, Masjid Al Furqan Yogyakarta, Senin (31/12).

Foto: Republika/Wahyu Suryana
Hijrah membuat batin seseorang semakin tenang.

REPUBLIKA.CO.ID,  YOGYAKARTA -- Tabligh Akbar Republika 2018 di Masjid al-Furqan, Umbulharjo, Yogyakarta, Senin (31/12), dipadati umat Islam. Selain mengajak umat untuk mengisi pergantian tahun dengan kegiatan keagamaan, acara ini bertujuan menebarkan semangat hijrah kepada anak-anak muda.

Baca Juga

Ada beberapa pemuda inspiratif yang membagikan kisahnya dalam berhijrah. Dua di antaranya adalah Ustaz Ridhowan Syakroni (Roni) dan Ustaz Aditya Abdurrahman.

Roni merupakan mantan preman jalanan dari Solo, sedangkan Aditya adalah mantan anak punk Surabaya yang kini menjadi pembina Punk Muslim.

Pada sesi Dialog Hijrah, Roni mengaku sangat menyesal karena telah memenuhi tubuhnya dengan tato. Hampir seluruh tubuh Roni, kecuali bagian panggung, terdapat tato. Ia mengaku sudah mengenal seni rajah tubuh sejak duduk di sekolah menengah pertama (SMP).

Penyesalannya bukan cuma itu. Dahulu, ia mengaku sudah mencoba hampir semua jenis obat-obatan terlarang selama menjadi preman di Solo. Hal itu membuatnya terpaksa hidup terpisah dengan orang tuanya yang memutuskan tinggal di Jakarta.

Ia pernah berpikir bahwa dengan merajah tubuh akan membuatnya terlihat gagah. Namun, tato yang ada di tubuhnya justru membuat ketidaknyamanan secara batin.

Ia bahkan merasa minder untuk melakukan shalat berjamaah di masjid.  "Kalau sudah azan, saya pergi duluan ke masjid. Shalat duluan supaya tidak ketemu yang lain," kata Roni.

Setelah delapan tahun hidup penuh maksiat, ada satu momen yang menjadi titik balik kehidupan Roni. Yaitu, saat mendengar kabar ayahnya yang tinggal di Jakarta, meninggal dunia.

Wafatnya sang ayah menjadi hantaman paling keras dalam hidup dia. Walau sudah berusaha keras, Roni seakan tidak mau menerima kenyataan ayahnya sudah tiada. Terlebih, Roni yang tinggal di Solo, hidup terpisah dari keluarga.

Setelah itu, ibunya yang sudah lama tinggal di Jakarta, menghubungi Roni dan mengaku ingin kembali ke Solo. Sang ibu mengajaknya untuk kembali mengaji dan tinggal bersama.

"Setelah kenal Allah lagi, alhamdulillah, merasakan satu kenyamanan yang begitu luar biasa. Kenyamanan ini tidak pernah saya rasakan dulu," ujar Roni.

Kisah hijrah juga disampaikan Ustaz Aditya Abdurrahman. Dia menekankan pentingnya akhlak dan ketegaran seseorang saat baru berhijrah. Bagi dia, salah satu cobaan bagi yang baru berhijrah adalah saat menghadapi lingkungan di sekitar. Dia merasakan sendiri betapa banyaknya reaksi negatif yang datang dari rekan-rekannya atas perubahan penampilan dan sikapnya.

"Ketika berhijrah. Salah satu yang bisa membuat lingkungan kita tidak anti kepada kita adalah akhlak," kata Aditya.

Akhlak yang ia maksud adalah kejujuran, keramahan, dan kepedulian terhadap semua orang. Dengan akhlak itu, kata dia, orang lain juga bisa terinspirasi untuk ikut berhijrah.

Menurut dia, hal itu pula yang ia terapkan saat berdakwah di hadapan para anak punk. "Kita kalau mau berdakwah, kita ukur seberapa mereka menilai akhlak kita. Kalau sudah dinilai baik, apa pun yang mau kita sampaikan akan diterima," ujar Aditya.

Mantan penyanyi cilik Puput Melati turut membagikan pengalamannya dalam berhijrah. Ia mulai hijrah pada 2008. Saat itu, ia mengaku belum memiliki banyak ilmu terkait Islam. Dengan niatnya untuk berhijrah di jalan Allah, ia pun memantapkan diri dan terus menggali ilmu agama.

Kemantapan dirinya dalam berhijrah dimulai saat ia mengalami alergi saluran nafas setelah melahirkan anak ketiga. Ia sempat koma. Saat itu, ia merasa diberikan kesempatan oleh Allah untuk tetap beribadah, ia pun makin mantap untuk berhijrah.

"Hijrah saya waktu itu tidak dibarengi ilmu. Hanya sekadar berhijab. Tapi, momen itu yang membuat hijrah hati saya dan saya harus berjuang di jalan Allah," katanya.

Puput mengatakan, ada banyak sekali rintangan dan tantangan yang ia hadapi saat mulai berhijrah di jalan Allah. Apalagi, gerakan hijrah saat itu belum semasif seperti saat ini. Namun, ia berhasil melewati semuanya.

"Allah pemilik rezeki, kenapa saya harus takut. Bismillah, saya memutuskan untuk hijrah," ujar Puput.

Seiring berjalannya waktu, figur publik bahkan generasi muda saat ini udah banyak yang melakukan hijrah dan menjadi influencer bagi orang lain. "Kalau sekarang anak muda berhijab, artis-artis muda juga. mereka menjadi influencer dan fashion Muslim pun juga banyak bermunculan," kata Puput.

Puput berpesan kepada masyarakat agar mendukung setiap orang yang berhijrah.

(ed: satria kartika yudha)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA