Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Imam Besar Istiqlal Sarankan Umat tak Berpoligami

Selasa 18 Des 2018 13:47 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Ratna Puspita

Nasaruddin Umar- Imam Besar Masjid Istiqlal

Nasaruddin Umar- Imam Besar Masjid Istiqlal

Foto: Republika/ Wihdan
Praktik poligami sering jadi sumber ketidakadilan perempuan dan anak-anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar menyarankan agar umat tidak melakukan poligami. Sebab, menurut dia, selama ini perempuan menjadi objek ketidakadilan.

Prof Nasaruddin mencermati masalah praktik poligami sering jadi sumber ketidakadilan yang dialami oleh perempuan dan anak-anak. Ia menambahkan berdasarkan hasil kajian-kajian sebelumnya menunjukan praktik poligami kerap menjadi alasan kasus perceraian, kekerasan terhadap perempuan, dan penelantaran anak.

Baca Juga

Dia menuturkan, Islam hadir untuk meredam pernikahan tanpa batas, sehingga Islam membatasi tiga atau empat istri dengan syarat syaratnya harus adil. "Tapi ayat lain mengunci, dikatakan bahwa laki-laki tidak akan bisa adil secara kualitatif atau menyangkut perasaan. Jadi logikanya apa? Ya, jangan poligami,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Selasa (18/12).

Hal ini disampaikan Prof Nasaruddin saat berceramah dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Jakarta, Senin (17/12). Peringatan Maulid Nabi ini mengangkat tema “Misi Kenabian dalam Memuliakan Perempuan.”

Prof Nasaruddin juga menyinggung peran Nabi Muhammad SAW dalam mengangkat derajat kaum perempuan pada masa itu. Kala itu, perempuan berada dalam subordinat laki-laki dan kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif.

“Bahwa Nabi Muhammad yang pertama kali menghentikan tradisi mengekstradisi perempuan yang sedang menstruasi. Dulu perempuan tidak boleh di-akikah, hanya laki-laki. Islam, lewat Nabi Muhammad SAW, memulai akikah bagi kaum perempuan,” ucapnya.

Menurut dia, Islam juga yang memperkenalkan dan mengizinkan perempuan berkiprah di ranah publik. Karena itu, kata dia, istri nabi Siti Aisyah juga ikut berperang. "Perempuan juga boleh menuntut ilmu setinggi-tingginya. Saya ingin mengatakan begini, berhentilah mendeskreditkan perempuan atas nama ayat," kata rektor PTIQ ini. 

Sekjen PSI Raja Juli Antoni mengatakan, apa yang disampaikan Prof. Nasaruddin tersebut sangat sesuai dengan apa yang disampaikan Ketua Umum PSI Grace Natalie agar menghentikan diskriminasi terhadap perempuan. Salah satu cara yang ditempuh PSI adalah mendisiplinkan kader dan pengurus untuk tidak berpoligami. 

“Sikap soal poligami ini tidak terkait dengan tafsir agama, tapi menyangkut masalah sosial," kata Toni.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA