Selasa, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 Desember 2018

Selasa, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 Desember 2018

Perkokoh Rumah Tangga dengan Agama

Kamis 06 Des 2018 21:51 WIB

Red: Agung Sasongko

Sepasang suami istri/ilustrasi

Sepasang suami istri/ilustrasi

Foto: Republika/Prayogi
Paling mendasar ialah membangun pola komunikasi yang baik. Belajar menjadi pendengar

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nashih Nasrullah

JAKARTA --  Kata orang, pernikahan terasa nikmat dalam enam bulan pertama. Selebihnya, godaan bosan pun mulai menghampiri, kemudian menghantui. Entah menyerang istri ataupun suami.

Bosan dengan komunikasi yang monoton dan bosan dengan pola interaksi yang telanjur tercipta stagnan. Membiarkan 'penyakit' itu berlarut-larut, sama halnya menyimpan bom waktu yang terpantik sumbunya. Tinggal menunggu waktu, meledaklah.     

Syekh Muhammad Shalih al-Munjid, dalam artikelnya yang berjudul Huquq az-Zauwjain, mengatakan kebosanan semestinya bisa dicegah. Itu bila kedua belah pihak kembali ke komitmen awal pernikahan serta saling menjaga terpenuhinya hak dan kewajiban masing-masing.

Ia menjelaskan, di antara hak istri ialah menerima nafkah yang layak dari suami. Ini meliputi sandang, papan, dan pangan. “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan, orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. (QS ath-Thalaq [65]: 7).

Dan, istri berhak atas perlakuan yang baik dari suami. Tidak mencela kekurangannya, berkata yang baik, tidak berlaku kasar, dan menghormati jerih payahnya mengurus urusan rumah tangga. Kesalahan ataupun kekurangan sepele dari sang istri, tak lantas mengubur segudang kelebihan yang dimilikinya. Berterima kasihlah kepada istri. Caranya, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS an-Nisaa'[4]: 19).

Sang istri juga memiliki kewajiban terhadap sang suami. Yaitu, taat dan memberikan pengabdian yang tulus. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).” (QS an-Nisaa' [4]: 34).

Ini, misalnya, dilakukan dengan tidak keluar rumah tanpa izin suami, melayani kebutuhan suami dengan baik, termasuk tampil cantik di hadapan pendampingnya tersebut. Syekh Shalih menguraikan, ada beberapa cara untuk mengantisipasi kebosanan dalam membina hubungan suami-istri. Paling mendasar ialah membangun pola komunikasi yang baik. Belajar menjadi pendengar yang baik.

Apa pun persoalan yang muncul, segera dibicarakan. Sikap membisu dan diam yang terus-menerus semakin mengendapkan masalah. Maksimalkan waktu yang ada untuk menciptakan suasana komunikatif tersebut. Bisa setelah shalat berjamaah, sembari makan bersama, atau ketika waktu berkumpul keluarga.

Beri kejutan. Berusaha memberikan sesuatu yang baru bagi suami. Apa pun itu. Soal penampilan, misalnya. Karena itulah, perlu manajemen waktu yang bagus dari seorang istri. Istri yang cerdas akan sigap kapan harus memosisikan diri sebagai istri, ibu, dan 'sahabat' bagi suaminya. Dan, bumbuilah hubungan Anda dengan rasa cemburu. Tak perlu berlebihan. Cemburu yang proporsional adalah bentuk kepedulian dan rasa sayang bagi pasangan.

“Intinya perkokoh keluarga dengan agama,” tulisnya.   

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES