Tuesday, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 December 2018

Tuesday, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 December 2018

BIN: Ada 50 Penceramah yang Sampaikan Materi Radikalisme

Selasa 20 Nov 2018 19:32 WIB

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Andi Nur Aminah

Menelisik Kerusuhan Tolikara. (dari kiri) Pengamat Intelijen Wawan Purwanto dan Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Musni Umar saat diskusi yang diadakan oleh KAHMI d Jakarta, Rabu (29/7).

Menelisik Kerusuhan Tolikara. (dari kiri) Pengamat Intelijen Wawan Purwanto dan Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Musni Umar saat diskusi yang diadakan oleh KAHMI d Jakarta, Rabu (29/7).

Foto: Republika/ Wihdan
Selain itu, survei juga menemukan ada 41 masjid terpapar paham radikalisme.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara Badan Intelijen Nasional (BIN), Wawan Hari Prabowo, mengatakan pihaknya sudah melakukan pendalaman terhadap temuan 41 masjid yang terpapar paham radikalisme. Berdasarkan penelusuran oleh BIN, ada 50 orang penceramah yang menyampaikan materi ceramah terindikasi mengandung unsur radikalisme.

Wawan menjelaskan, survei yang menemukan 41 masjid terpapar paham radikalisme dilakukan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat Nahdatul Ulama (P3M NU). Survei ini menyasar kegiatan khutbah yang disampaikan oleh penceramah.

Baca Juga

"Kemudian kami sudah mendalami temuan ini. Yang jelas ada ceramah seperti itu, dan kami lakukan pendekatan pada penceramahnya," ujar Wawan kepada wartawan di Pancoran, Jakarta Selatan, Ahad (20/11).

Dia lantas menyebut jumlah penceramah yang menyampaikan materi radikalisme sekitar 50 orang. "Ada sekitar 50 orang, tidak terlalu banyak," ungkap Wawan.

Dia mengatakan BIN telah melakukan pendekatan terhadap 50 penceramah tersebut. "Ini sedang kami dekati terus. Kami sampaikan agar tidak menyampaikan hal seperti itu," katanya.

Saat disinggung tentang afiliasi para penceramah dan materi yang disampaikan dengan kelompok tertentu, Wawan enggan memberikan jawaban. Terkait dengan materi ceramah yang menjurus tentang penggantian idelogi negara, Wawan juga enggan mengonfirmasi. "Yang jelas masih kita dekati semua," tegasnya.

Sebelumnya, Wawan membenarkan temuan 41 masjid di lingkungan kementerian dan lembaga yang terpapar paham radikalisme. Menurutnya, parameter temuan ini berdasarkan konten ceramah yang ada di puluhan masjid tersebut.

Wawan menjelaskan, informasi tentang 41 masjid yang terpapar paham radikalisme itu beras dari survei terhadap 100 masjid yang ada di lingkungan kementerian, lembaga dan BUMN. "Survei itu dilakukan kepada kegiatan khotbah di sejumlah masjid yang ada di lingkungan kementerian, lembaga dan BUMN. Konten ceramahnya kami utamakan," katanya.

BIN mengakui bahwa konten ceramah memang menjadi parameter utama dalam survei ini. Sebab, dalam satu tahun, sudah dapat dicermati daftar penceramah dan materi yang disampaikan. "Memang kami lihat dari ceramah yang disampaikan. Tetapi kalau masjidnya sendiri kami tidak menyebut radikal," lanjut Wawan.

Adapun materi ceramah yang menjadi perhatian BIN mengarah kepada intoleransi, ujaran kebencian dan persoalan ideologi negara. Menurut Wawan, survei terhadap masjid-masjid yang seluruhnya ada di Jakarta ini bertujuan sebagai peringatan dini (early warning) kepada masyarakat. "Kami tidak ingin ada intoleransi, ujaran kebencian, mengafirkan orang lain atau timbul hal-hal yang berhubungan dengan ideologi," tegasnya.

Pada Sabtu (17/11) lalu, Staf Khusus Kepala BIN, Arief Tugiman mengungkapkan ada 41 masjid yang terpapar paham radikalisme. Hal ini dia sampaikan dalam diskusi Peran Ormas Islam Dalam NKRI di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI).

Menurut paparan Arif, 41 masjid itu terdiri dari 11 masjid kementerian, 11 masjid di lembaga dan 21 masjid BUMN. Dari data ini, Arief menjelaskan jika ada tujuh masjid dengan paparan radikalisme kategori rendah, 17 masjid terpapar radikalisme kategori sedang dan 17 masjid terpapar radikalisme kategori tinggi.

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES